Menari Di Antara Jepretan Kamera

Serial Kisah Remaja Bertalenta

— Orion Bima Wicaksana

 

Orion. Namamu mengingatkan rasi bintang “waluku” alias “bajak”, sang pemburu langit. Sepanjang usiamu menggantung, semua yang menengadah ke udarat pasti melihatmu. Kecuali awan memayungi kepala, dan siang ketika matahari menghalangi pandanganmu, atau buta. Sebelum alat modern dipakai untuk menentukan masa tanam, para petani telah menjadikanmu sebagai wuku penentu waktu.

Orion Bima Wicaksana, nama panjangmu. Mungkin orang tuamu ingin menjadikanmu seperti bintang itu dan bijak. Teman-temanmu meniru keluargamu memanggil cukup nama depanmu dengan alias lain: “Oi”. Lahir di Kebumen, 22 April 2002.

Menatapmu hari ini dengan segala karyamu, enam tahun lalu waktu kita bicara soal cita-cita untuk pertama kali, semua rasanya serba singkat. Aku, ayahmu Edy Supratno, anakku Tsaqiva Kinasih yang kini jadi sahabatmu berkarya, di kursi longer taman sebelum Omah Dongeng Marwah resmi berdiri, kamu lebih sering tersenyum setiap aku tanya mau jadi apa saat besar nanti?

Sampai kamu menyelesaikan video clip statis kedua untuk lagu-laguku seminggu lalu, kamu masih belum besar, setidaknya badan dan usiamu, tapi sikap dan karyamu seperti melewati manusia dewasa.

Setahun lalu kamu bercerita tentang adegan menangis dengan ibumu dan teman-temanmu waktu memutuskan keluar dari sekolah yang kamu impikan, karena tetap tak kamu dapatkan mimpi itu di situ: menjadi penggambar unggul. Adegan itu seperti mengulang waktu SMP saat mimpi serupa dibanting oleh kepura-puraan gurumu memerhatikanmu. Sampai kamu masuk SMK favorit dan akhirnya sama: “Ini sekolah vokasi unggul, tapi saat ambil raport yang jadi perhatian lebih banyak pelajaran akademik, bukan bakat anak saya,” cerita ayahmu. Lalu kamu putuskan keluar dan mengasah talentamu di sekolah non-formal Omah Dongeng Marwah (ODM).

Tangismu itu ketakutanmu dan keberanianmu sekaligus. Di lingkungan barumu bukan saja gambar dan lukisan dengan sangat berani kamu kembangkan, tetapi sudut pandang dan frame. Di sini tidak ada kepura-puraan. Pura-pura hanya ada di peran, yang karakternya kamu capture dengan kuas lensamu.

Inikah tempat barumu mengasah talent? Yang menghabiskan waktumu, tetapi tak terbuang, ketika kamera menuntunmu kembali melihat gambar-gambarmu di atas kertas dan di dalam diary. Gambar-gambar itu rangkaian sketsa analog dari jutaan titik pixel yang kamu jepret melalui kamera digital. Membuat fotomu lebih hidup dari sekedar gambar. Dengan kamera kamu makin paham suasana, pantulan cahaya, gestur, dan karakter dalam kehidupan nyata bukan sekedar sketsa. Dan hidup seperti de javu. Yang disia-siakan orang lain di masa lalu dan apapun yang pernah kamu gambar, ternyata tak ada yang percuma hari ini. Karena itu, jangan pernah kamu benci mereka dan masa lalumu.

DoP atau director of photography yang kerap kamu perankan tiap memroduksi film dengan teman-temanmu, bukan pekerjaan yang sepele. Sepanjang kamu berwenang mengatur letak cahaya, jarak kamera dengan objek, dan menentukan karakter talent selain sutradara di depan lensa, kamu bukan cuma kameramen apalagi tukang foto. Ini kehidupan nyata dalam film, di mana sudut yang selalu kamu ambil akan menjadi peristiwa, dan dengan itu sebuah film di tanganmu punya nyawa.

Lebih bernyawa lagi kalau kamu konsisten mengangkat yang lokal menjadi global melalui film, seperti mimpimu hari ini. “Aku ingin membuat film yang menyajikan seluruh tari tradisional Indonesia dengan standar baik,” katamu.

Seperti tarian Rihana. Gadis yang kisahnya kamu kagumi. Gadis dari keluarga sederhana dan tak pernah sepi dari bully, putus sekolah, hidup dikepung kriminal, tapi karirnya sukses dan tahun 2019 ini mendapat predikat “World’s Richest Female Musician”.

Melihat karya-karyamu, membuktikan ternyata cita-cita tak hanya satu. Kamu bikin lagu selain film dengan segala keterbatasan vokalmu waktu itu, bahkan fals dan tak bisa satupun alat musik kamu mainkan, tetapi kamu bisa menulisnya dan tak pernah kamu beri judul sampai hari ini. Bukan kamu hebat sendiri, tapi semua anak Indonesia ketika dimerdekakan imajinasinya benar-benar hebat seperti adik-adikmu di ODM dan seluruh anak muda nusantara.

Boleh jadi kamu tidak tahu siapa penemu kamera analog pertama sebelum digital yang kamu pegang. Joseph Nicephore Niepce, warga Prancis. Yang menciptakan plat logam berlapis bitumen yang sensitif terhadap cahaya untuk menangkap foto pertama di dunia pada 1827. Yang penting kamu memahami fungsinya, itu sudah cukup untuk sementara waktu, tapi tidak nanti. “Kamera lebih konkret menangkap karakter saat menjadi film atau video daripada gambar,” katamu.

Dan film telah mengubah cara kita berpikir tentang foto. Sama seperti ratusan karakter Twitter yang mengubah cara kita berpikir tentang kata-kata. Sikap sedikit bicaramu juga telah mengubah kata-kata menjadi karya. Masih ingat dulu Charlie Chaplin yang bisu di depan kamera berjalan dan lari dengan patah-patah seperti pantomim menari di panggung kehabisan arena? Kita mengenal gerak itu dan wajahnya yang disaput cat putih tersisa jadi sejarah. Dan kamu seperti Chaplin itu kurasa.

Tapi, sejarah itu, juga detail kisah penemuan alat, banyak anak muda termasuk kamu tak tahu. Selain fungsi, soal itu masih kamu perlu tahu supaya kita paham pada apa di balik kamera. Seperti metode pendidikan anak-anak di ODM yang kami kenalkan sebagai “story behind the shrimp”, ada udang di balik kisah.

Dan saranmu untuk anak muda seusiamu agar: “Memilki karakter yang baik dan lingkungan yang mendukung dengan memiliki sistem yang baik pula,” Akan lebih baik jika untuk meneladaninya kamu menulari mereka dengan karya.

Pada puluhan karyamu dalam film, video, dan lagu, baik sebagai editor maupun DoP, pada akhirnya kusarankan agar kamu tetap sunyi dari gemerlap selebritas. Biarkan orang lain yang memomulerkan kamu jadi apapun, tetapi jadikan kamu sunyi dari glamoritas. Tetap menjadi dirimu yang tenang dan tidak mengobral bicara, menjadi bintang tanpa gemerlap.

“Salah satu ketakutan terbesarku adalah menjadi sombong di masa depan. Mitologi Yunani menceritakan Orion mati disengat kalajengking karena kesombongannya. Maka, salah satu usahaku kini selalu mensyukuri apa yang sudah ada, dan menyadari aku hanya bagian kecil dari semesta raya,” katamu berjanji. Semoga, Nak!

Salam dongeng!
Hasan Aoni, Pendiri Omah Dongeng Marwah