Wajah Baginya Kanvas

Serial Kisah Remaja Bertalenta

— Ervina Dwi Setyaningrum

 

“Banyak orang mencibir aku dengan kesukaanku pada make up, rias, dan dandan di waktu kecil. Buat mereka sekolah lebih penting dari bakat,” kata gadis bernama lengkap Ervina Dwi Setyaningrum.

Biasa dipanggil Vina oleh teman-temannya, usia 16 tahun, kelas dua setara SMA, lahir di Kudus pada 4 Januari 2003. Sejak kecil ia paling suka memerhatikan ibunya berdandan dengan make up sederhana di depan cermin.

Keseharian Ibunya tak perlu lipstik dan segala rupa asesoris make up. Sesekali saja ketika menghadiri resepsi pernikahan saudara atau tetangganya. Tetapi pengalaman melihat ibunya di depan cermin itu menjadi inspirasi yang menggugah. Vina kecil mulai meniru melukis wajahnya dengan alat-alat itu. Bukan lebih cantik, malah serupa badut bikin seisi rumah tertawa.

Tetapi, karier apapun butuh peristiwa pertama untuk mencoba. Sejak itu ia merasa bakatnya ditemukan di depan cermin dan di depan siapapun wajah perempuan di rumahnya untuk jadi kanvas, tidak terkecuali dia sendiri. Terus dan terus. Menghabiskan lipstik dan alat-alat kecantikan ibunya yang jumlahnya tak seberapa.

Kebiasaan ini mengundang bukan decak kagum, tetapi cerca. Dianggap centil, genit, dan itu tidak elok. Teman, tetangga dan saudara-saudaranya melihat aneh kebiasaan Vina. Betapa susahnya menjadi diri sendiri di tengah lingkungan yang tidak mendukung. Pulpen, buku pelajaran, PR, dapur, masak lebih penting bagi mereka dibanding bakatnya. Kepintaran ukurannya nilai raport yang baik.

Cibiran itu serupa perintah untuk kembali menekuni bangku sekolah. Menuruti keinginan orang-orang untuk membuang kanvas dan alat-alat kecantikan, menggantinya dalam kotak itu pulpen, penggaris, spidol, jangka, dan seluruh alat-alat sekolah.

Pertarungan terjadi dalam batinnya. Ia tak menyukai matematika dan fisika, tetapi suka berhitung dan sinar matahari sebagai sumber fisika. Ia butuh ilmu terapan untuk memahami semua gejala alam dan lingkungan. Dia temukan ketika memegang kuas dan alat-alat make up itu. Mengitung dengan cermat harmoni wajah dan energi kecantikan bahkan lebih dari teori matematika dan fisika. Matematika dan fisika a la Vina.

Itu cara Vina mengekspresikan kecintaannya pada pengembangan bakat tanpa membenci pelajaran, guru-guru dan saudaranya. Beruntung masih ada ibunya yang selalu mendukung dan rela menyediakan wajahnya menjadi kanvas untuk “cat” dan alat-alat make up yang menjadi cepat sekali habis karena itu.

Ia mulai memahami tidak saja kecantikan wajah, tetapi keanggunan moral, juga karakter seperti yang ingin diperankan dalam skenario film. Dengan teman-temannya ia membuat film “Mata Jiwa” untuk debut pertamanya tahun 2017 dan memilih peran make up dan wardrobe.

Hobinya menarik perhatian Yoan Yuwana, pemake up artis Isyana Saraswati, Gita Gutawa, Fatin, Rini Idol, dan Gisele hadir di Kudus menemuinya dan menularkan teknik profesional serasa sekejap. Bakatnya telah menyerap semua teknik memahami wajah dan warna make up dengan waktu sangat singkat untuk ukuran anak-anak, setara pelajar penyuka matematika mengerjakan soal UN yang paling rumit.

Kini bukan saja mahasiswi yang akan wisuda, menghadiri pesta pengantin, ulang tahun, juga yang akan pentas teater, membutuhkan tangan terampilnya untuk melukis wajahnya.

“Saya ingin suatu ketika merias wajah orang-orang yang dulu mencibirku. Gratis, tetapi bisa bikin dia lebih cantik dari dipegang orang lain,” katanya.

Bukan soal mudah pilihannya pada bidang rias dan wardrobe. Butuh cukup dana, karena semua yang bermerek mahal harganya. Omah Dongeng Marwah (ODM) tempat dia sekolah menyediakan alat-alat itu pada ukuran standard. Tetapi, tak semua bisa dicukupi. Tidak dari orang tuanya yang hanya penjual “nasi kucing” di GOR dan lapangan Rendeng, Kudus.

Ia berjuang mencukupinya dengan kemampuannya merias, menata pakaian, dan terakhir mencipta lagu, koreografi, dan berteater, bakat lain gadis yang sangat suka tertawa ini. Siang belajar seperti bermain-main di ODM, malam membantu ibunya berjualan.

Dia berharap suatu ketika ada dermawan ilmu yang rela mengembangkan bakatnya agar bisa seprofesional orang paling profesional. “Gadis desa boleh kan punya cita-cita tinggi, Bu?” tanyanya pada ibunya.

Video profile Vina berikut ini dibikin dengan teman-temannya di ODM. Ia mengonsep sendiri alurnya, mengisi narasi, dan mencipta sendiri lagu dan menyanyi. Masih agak fals, tapi ia tak mau memolesnya dengan melodyne. “Biar seperti itu, asli, dan teman-temanku sangat tahu dulu aku lebih buruk dari itu,” ungkapnya, jujur.

Salam dongeng!
Hasan Aoni, pendiri Omah Dongeng Marwah