Nauru dan Airmata Terakhir Aingimea

— Semoga kelak tak tumpah air mata terakhir di Indonesia.

Suatu hari di tahun 2014, di usianya yang senja, mantan menteri di Republik Nauru, James Aingimea (84), dengan suara parau mengatakan, “Jika tahu tambang akan mengakibatkan kami sengsara, kami tak pernah berharap posfat ditemukan di sini,” katanya sambil menyeka air mata.

Nauru adalah negara kepulauan kecil dengan luas hanya 8 mil atau 12.872 km2, setara sepertiga luas Jawa Tengah di Indonesia. Negara ini berbatasan dengan Australia. Berbagai negara pernah menjajahnya demi posfat, sekutu Eropa-Australia, dan Jepang di antaranya. Menjajah dan mengangkut kekayaan negeri yang tahun 1798 dijuluki pleasant island, pulau yang indah permai, dan hanya menyisakan sedikit cadangan posfat.

Setelah merdeka dari Inggris pada 1968, Nauru membangun negerinya dengan mengekspolitasi habis-habisan sisa tambang itu. Ia suplai negara-negara yang dulu menjajahnya dengan fosil yang sama.

Posfat adalah fosil kotoran burung yang usianya sudah berabad-abad. Mengingatkan kita pada film anime sentuhan tangan hebat sutradara Kirk DeMicco dan Chris Sanders dalam The Croods (2013). Posfat dalam dunia kesehatan digunakan untuk obat osteoporosis dan rakhitis atau penyakit yang berhubungan dengan tulang dan gigi. Di bidang pertanian dipakai untuk nutrisi tanaman dan penyubur lahan.

Bisnis tambang posfat mendatangkan limpahan uang bagi Nauru dan penduduknya. Saking berlimpahnya, sampai tisu pembersih toilet di rumah-rumah penduduk menggunakan “gulungan” uang kertas dolar Amerika. Ladalah!

Tetapi, sayang, para pemimpinnya lupa cara membangun negeri itu dan asyik mengeksploitasi dan korupsi. Bangkrut kemudian negeri itu bersama habisnya cadangan posfat. Nauru kini menjadi negara paling papa di dunia dengan jumlah utang jauh melebihi kemampuan bayarnya. Kini mereka merasa tak ada lagi jalan keluar. Habis air mata semua penduduk dan pemimpinnya.

Nun jauh dengan jarak 5.822 km2 dari Nauru, eksploitasi batu bara di sepanjang kepulauan Kalimantan dilakukan mulai 1849, ketika tambang modern “Oranje Nassau’ yang dibuka Belanda di Pengaron, Kalimantan Selatan, didirikan. Menggerakkan turbin lokomotif dan mesin-mesin uap oleh apa yang Eropa sebut sebagai Revolusi Industri pertama. Bel pertarungan antareropa di Indonesia dan Asia mulai dibunyikan menyusul Inggris yang mendirikan “British North Borneo Company” di Sabah untuk merebut tambang batubara di Labuan.

Indonesia modern sejak Orba berkuasa 1966 makin membuka eksploitasi itu. China, Amerika dan beberapa negara Eropa mengeluarkan purchasing order (PO) emas hitam ini. Kita kaya cadangan energi batu bara, tetapi digunakan untuk ketahanan energi negeri seberang. Ironinya justru cadangan mereka melebihi kita bahkan sejak pertama surat PO dilayangkan, apalagi sekarang.

Kita perlu belajar dari Nauru saat ini sebelum semua terlambat. Supaya kelak tak ada air mata terakhir penduduk dan para pemimpin negeri, yang eloknya melebihi negeri seindah surga manapun di dunia.

Salam Dongeng!
Hasan Aoni, pendiri Omah Dongeng Marwah