Revolusi Berkeringat

Tepat setahun lalu sepucuk surat undangan dari Kementerian Koordinator PMK RI dilayangkan ke alamat Omah Dongeng Marwah (ODM), Agustus 2018. Ini undangan yang sangat serius jika melihat cap yang akan disematkan kepada 11 penerima undangan itu. Jangan-jangan undangan ini salah alamat.

Yang lebih menegangkan dan saya harus memastikan segala kemungkinan kesalahan itu, karena nama saya tercantum dalam daftar itu. “Tokoh Pemuda Inspiratif Revolusi Mental”. Busyet!

Bagaimana mungkin seorang yang mentalnya belum stabil, setiap detik bahkan masih mencari inspirasi dari masyarakat, dan bukan tokoh masyarakat pula, turut masuk dalam daftar calon penerima sebutan “Pemuda Inspiratif”? Gawat! Jangan-jangan ada yang tanpa sengaja tertipu oleh penampilan saya.

Yang menentukan 11 nama itu team yang terdiri dari orang-orang beken bergelar profesor dan doktor negeri ini, antara lain Tri Mumpuni, Taufik Rahzen, Mohammad Sobary, Paulus Wirutomo, Arif Bumanta, I Nyoman Shuida, Rumadi, Marbawi, team Rhenald Kasali dan beberapa nama lain. Saya makin grogi setelah tahu ternyata team ini telah melakukan kurasi terhadap karya perubahan yang dilakukan calon-calon itu. Waladalah, karya saya apa?

Segera saya meminta ODM rapat, dan saya tertawa terbahak-bahak ketika menceritakan undangan itu kepada kepala sekolah Edy Supratno. “Bagaimana kalau kita tolak?” tawar saya kepada calon doktor ilmu sejarah itu. Ia berpikir sejenak “Jangan, Pak. Anggap saja ini apresiasi kepada kakak pendamping dan anak-anak ODM,” kata Pak Edy.

Oke. Kalau apresiasi kepada lembaga, saya minta Pak Edy saja yang mengisi formulir itu. Atau kita ajukan nama berdua. Ternyata kedua usul itu ditolak mentah-mentah oleh team Kemenko. Dianggap tidak lazim. Dalam hati saya, memang saya lazim masuk daftar itu?

Begitulah. Di Jakarta selama tiga hari kami mengikuti workshop dan menerima tugas sangat berat itu. Anggaplah ini ujian hidup.

Ujian pertama saya hadapi ketika salah satu wartawan mempertanyakan pergelutan saya sebagai inspirator dengan dunia tembakau. Dunia yang bikin saya mengenal sirkulasi duit ibu-ibu pelinting kretek yang jumlahnya lebih dari 120 ribu orang di Kudus. Juga jutaan petani tembakau dan cengkeh di Indonesia. Setiap tahun negara membutuhkan dana cukai rokok ratusan triliun rupiah dan sah diatur melalui UU. Tembakau bukan barang yang dinajisharamkan, apa yang perlu dipetanyakan? Pikir saya. Dalam suatu hadits shahih Bukhori bahkan disebutkan seekor anjing yang dinajiskan telah bikin seorang pelacur masuk surga karena menyayangi makhluk Tuhan ini.

Ujian kedua ketika bersama tiga pemuda inspirator lain mewakili Kemenko tampil dalam “Pekan Kerja Revolusi Mental” di Manado, akhir Oktober 2018. Di acara ini saya mengajak kakak pendamping dan siswa ODM ikut serta, tetapi ternyata tidak bisa dicover biayanya, sedangkan tiket PP sudah terlanjur dibelikan. Alamat saya harus nombok. Rasanya tidak mungkin saya hadir dengan konsep yang sudah disepakati tanpa keikutsertakan mereka.

Celakanya, dan ini bisa disebut ujian ketiga, di expo yang dihadiri ribuan masyarakat Manado itu, desain acara yang sudah kami susun hampir tidak berguna. Acara semahal dan sepenting itu ternyata lebih menonjolkan seremoni daripada membangkitkan spirit lokal yang mungkin bisa menjadi tikar revolusi mental masyarakat. Saya melihat karakter birokrasi pemerintah daerah masih sangat kuat.

Di Manado saya berharap bisa berdialog dengan masyarakat sekitar, mengeksplorasi kebudayaan lokal di sana, dan membangun program kelanjutan setelah itu. Kita ingat waktu itu belum lama Sulawesi diguncang gempa. Sangat mungkin mereka memiliki kearifan lokal dalam menghadapi bencana yang bisa dikembangkan bahkan untuk wilayah lain di Indonesia.

Begitulah dalam setahun ini saya lebih merasa tersiksa menanggung cap yang kelihatannya sangat hebat dibanding menjadi diri sendiri. Dan jangan-jangan ketersiksaan ini juga jenis ujian yang tidak kalah penting. Ujian untuk merevolusi mental inspiratornya. Sebentuk kerelaan untuk menerima senjata makan tuan!

Sambil tersipu saya ceritakan kisah ini kepada para pendamping desa, sahabat tani, dan anak-anak ODM. Orang seperti saya rupanya tidak punya potongan menyandang sebutan apapun. Cukup berat tugas merevolusi mental masyarakat. Merevolusi diri sendiri saja sudah cukup menguras keringat.

Meski demikian, atas nama ODM kami menjura kepada Kemenko PMK dan team, yang telah mengapresiasi metode story telling kami dalam menerapkan pendidikan untuk anak-anak kampung dan masyarakat.

Salam dongeng!
Hasan Aoni, pendiri Omah Dongeng Marwah

— Kemenko PMK: Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI

https://www.google.com/…/belajar-revolusi-mental-dari-11-to…

http://www.jurnas.com/…/Mengenal-Sosok-Empat-Pemuda-Inspir…/