Lagu Ini dan Anak Pembanting Kartu Domino Itu

Waktu kelas satu SD Kamal sering ikut menemani ibunya jualan nasi di proyek pembangunan gedung “Oasis” milik salah satu perusahaan di Kudus. Supir-supir truk pengangkut material mampir membuang lapar dan haus di kios tiban itu. Lima puluh meter jaraknya dari kios itu sambil menunggu giliran mengangkut, mereka membanting kartu domino di atas tikar. Judi kalangan cilik.

M. Kamal Niam Amin, nama lengkap anak itu, menghampiri mereka, mengira kartu-kartu itu permainan biasa. Kartu domino berurutan disusun sesuai jumlah bulatan berwarna merah. Dia tertarik ikut menyusun. Uang kertas seribuan ditekuk di bawah cepitan lutut empat supir yang bermain. Oleh mereka, tangan gemuk Kamal sering ditarik untuk membanting kartu-kartu itu. Latihan, kata mereka, lalu tertawa. Bukan lagi judi kalangan cilik, tapi memang bocah cilik yang berada di ruangan salah orang dewasa. Tak hanya itu, gelas-gelas berisi air warna hitam ikut disorongkan ke mulutnya. Minuman ciu.

Ibunya sibuk melayani, tak tahu apa yang sedang dilakukan anaknya. Ia baru berteriak memanggil Kamal kalau lama batang hidungnya tak datang. Kamal datang dengan wajah ditekuk seperti uang-uang judi yang dicepit itu. Ibunya benar-benar tak tahu. Kamal merahasiakan seperti pesan supir-supir itu.

Kamal menceritakan peristiwa yang sangat diingatnya itu kepada kakak pendamping di Omah Dongeng Marwah (ODM) saat kelas empat SD tahun 2018. Suatu hari menjelang Hari Ibu di tahun itu, ia datang ke sanggar. Anak-anak diajak berlatih mengekspresikan perasaan cinta dan bersalah kepada ibu. Ia memilih menulis pusi, sedang lainnya menggambar dan membaca cerita dari lemari buku tentang ibu.

Puisi itu dibacakan. Satu-satu maju. Kamal mendendangkan diam-diam setelah itu sebuah irama dengan hamming (menggumam), yang pendamping tidak tahu nada milik siapa itu? “Ngarang, Kak!” katanya ketika ditanya, malu lalu lari. Kak Ryo, pendamping musik, menangkap ada nada yang tak biasa dari gumamnya. Dibantu kakak lain ia memanggil Kamal melirikkan pusinya dengan nada tadi. Jadilah puisi “Maafkan Ibu” karya Kamal menjadi sebuah lagu.

Anak yang lugu, tetapi cerdas menangkap nada itu mulai senang membuat lagu. Dan waktu berlalu. Ia sudah mulai belajar melupakan peristiwa supir-supir yang mempermainkan dia judi dan menyorongkan gelas-gelas hitam yang katanya “Bikin kepalaku pusing, Kak!”

Semua anak punya bakat. Kamal telah membuktikannya tanpa ragu. Saya mendengarnya berkali-kali. Dua kali sempat dibuat menangis dengan lagu itu ketika mengingat masa kecilnya. Ada nada Elfa Secioria di salah satu part-nya.

Minggu lalu, bersama teman-teman akrabnya, terutama Ragil, merekam suaranya di “Studio 5” milik ODM yang khusus disiapkan untuk song guide. Studio-studioan. Tsaqiva Kinasih menyelesaikannya dalam arrangement sederhana. Demi sore tadi bersama Ragil ia naik motor mengelilingi rumah sapi, membuat saya ingat kembali Kamal dan lagu ini. Selamat menikmati, Gaes!

Salam dongeng!
Hasan Aoni, pendiri Omah Dongeng Marwah

Dikirim oleh Hasan Aoni pada Minggu, 18 Agustus 2019