Spesialis General

Apa pekerjaanmu? Seseorang bertanya kepada saya. Saya selalu sulit menjawab pertanyaan ini. Bukan saja karena dalam 8,5 tahun terakhir sampai Maret 2019 saya menduduki posisi Sekjen suatu asosiasi, jabatan yang secara profesional sulit diakui sebagai pekerjaan, juga karena saya tidak punya keahlian khusus yang lazim dianggap orang umum sebagai pekerjaan.

Maka, jawaban paling aman untuk setiap pertanyaan itu adalah, “Saya spesialis general.” Jawaban ini menimbulkan masalah baru. Apa ada skill “spesialis general”? Dua kata yang paradox dijejer jadi satu mewakili nama pekerjaan. Spesialis, tapi umum? Adakah orang mengetahui secara spesifik untuk hal-hal yang bersifat umum? Berikut kisah ini.

Sekolah alam kami kedatangan Dirjen Paud dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Bapak Harris Iskandar, Senin, 19 Agustus 2019, lalu. Setelah menikmati sajian tari kretek dua putri Omah Dongeng Marwah (ODM), doi memberi sambutan yang sangat menarik. “Hidup hari ini bagi anak muda adalah pilihan mau menjadi srigala atau landak?” katanya.

Mana yang paling adaptif? Srigala tahu serba sedikit, tetapi melihat banyak hal. Srigala sering berada di ketinggian untuk mengintai dan sesekali mengitari wilayah kekuasaan. Sedang, landak tinggal di bagian bawah tertutup rerimbunan, tahu masalah di sekelilingnya dengan mendalam. Meski tahu sedikit, srigala mampu menandai mana peluang mangsa dan mana ancaman. Sedang, landak meski sangat tahu wilayah, memiliki keterbatasan menandai peluang dan ancaman di luar jarak pandangnya.

“Menjadi srigala tampaknya pilihan yang baik hari ini,” jawabnya. Kesimpulan Pak Dirjen seperti sedang mendukung pilihan saya yang bangga, sebetulnya kata lain dari kelemahan saya, ketika mengatakan, “Saya spesialis general.”

Bagaimana sejarah pekerjaan terbentuk? Peradaban Barat awalnya hanya mengenal filsafat untuk memahami perkembangan pikiran, alam serta cara pandang manusia terhadap “The Other” atau “Sang Liyan”. Muncul setelah itu filsafat sosial dan alam, filsafat ilmu, ilmu pengetahuan, teknologi, dan turunannya. Di antara itu terdapat irisan teori dan pengetahuan, bahkan sample dan metodologi, melangsungkan pertemuan antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya. Ilmu Sosiologi, Marketing, dan Komunikasi, misalnya, memiliki basis sasaran yang hampir sama. Ilmu Sosiologi mengenal “sosial-masyarakat” setara dengan “target market” pada ilmu Marketing dan “target audiences” pada Ilmu Komunikasi.

Tapi, untuk kepentingan spesifikasi, tidak lagi memelajari satu ilmu sekarang secara otomatis akan menguasai ilmu lain meski setara. Melainkan, dipelajari tersendiri, sebab masing-masing ilmu memiliki keunikan sesuai basis epistemologinya.

Ilmu kedokteran yang semula hanya mengenal ahli internis sebagai profesi yang dianggap spesifik, dibagi lagi cabangnya menjadi ahli paru, jantung, pankreas, hepar, dll. Masih dibagi lagi oleh perkembangan waktu menjadi ahli paru kanan, paru kiri, otak kanan, otak kiri dengan objek masing-masing yang sangat sepesifik.

Sekelas Einstein, kurang apa sebagai orang yang menguasai bidang fisika, yang mestinya mudah menghitung apapun, ternyata membutuhkan ahli matematika Marcel Grossmann untuk menghitung satuan terkecil untuk teori relatifitasnya yang terkenal.

Tetapi di Barat, diversifikasi keahlian muncul selain oleh alasan terlalu sepesifiknya problem yang tidak bisa lagi diatasi dengan pendekatan umum, juga dicurigai ada kepentingan pasar di balik itu. Prinsipnya, semua bidang khusus dan baru harus memiliki nilai jual supaya bisa mengisi kejenuhan pada yang lama. Dalam konteks ini, ilmu pengetahuan bukan hanya dikembangkan, tetapi direfreshment menjadi semacam gimmick pengetahuan.

Meski demikian, ada juga dalam sejarah seseorang yang memiliki banyak keahlian karena ragamnya bakat dan perhatian pada disiplin ilmu pengetahuan seperti terjadi pada anak pemintal bulu kambing Al-Ghazali. Ia ahli filsafat, kedokteran, biologist, psikologi, dan ahli sekaligus pelaku tasawuf pada usia yang relatif muda. Ia meninggal pada usia 52 tahun, 11 tahun setelah mundur dari jabatan rektor di Universitas Nizhamiyah, Turki.

Dan waktu berlalu. Setelah teknologi dan segala ilmu pengetahuan dapat dikonversi ke dalam aplikasi digital, dibutuhkan host yang bisa berfungsi sebagai hub (terminal) yang menghubungkan fungsi-fungsi pengetahuan itu di masyarakat. Siapa yang memiliki akses dan kemampuan, dengan keahlian tak perlu mendalam banget, tetapi mengetahui banyak hal, memiliki peluang memimpin trend perkembangan itu. Yang penting pintar mengolaborasikan semua fungsi itu.

Pada era digital itu, keahlian psikologi, hukum, komunikasi, bankir, bahkan kesehatan dan bidang-bidang lain diprediksi akan tergantikan oleh aplikasi itu. Kecuali satu, kata Jack Ma, seni dan hal-hal yang berhubungan dengan rasa. Aplikasi berkesenian, seperti plug in dalam tools arrangement, bersifat hanya membantu, hasil akhir tetap ditentukan oleh rasa.

Dengan semua trend itu, rasanya saya tidak perlu malu lagi menjawab “spesialis general” untuk setiap pertanyaan tentang pekerjaan dan keahlian, hehehe.

Pesan kunci kisah ini adalah kalau kita bukan ahli dalam suatu bidang, tidak sempat kuliah tinggi, karena keterbatas dan kesempatan, tidak memiliki uang cukup, tak perlu berkecil hati. Yang penting mengembangkan bakat dan perhatian pada bidang yang sangat ragam tetapi fokus dan menelurkan karya apa yang ditekuninya, pasti memiliki peluang adaptif dengan perkembangan zaman. Tentu saja yang pokok memiliki attitude (karakter) yang baik. Karakter dalam konteks Ma adalah seni dan rasa itu. Begitu kira-kira, saya sendiri bukan ahli dalam soal ini. Maklum “spesialis general”, hehehe.

Salam dongeng!
Hasan Aoni, Omah Dongeng Marwah

Dikirim oleh Hasan Aoni pada Rabu, 21 Agustus 2019