Byul dan Peri Kecil

Sore itu, Byul berdiam diri di dalam kandangnya. Ia terlihat sedang besedih.

Byul adalah kucing kecil berwarna abu-abu. Ia memiliki buntut yang pendek yang tinggal di tempat penampungan hewan.

Kemarin, ada seseorang yang datang dan mengatakan akan mengadopsi seekor kucing. Pilihannya jatuh pada Byul dan Debby, kucing ras berbulu indah yang ditelantarkan oleh pemilik sebelumnya. Ia merasa pesimis sekali. Dilihat dari manapun, Debby jelas lebih unggul dari pada dirinya.

Waktu terus berjalan, cahaya yang menyelinap melalui ventilasi sudah berubah menjadi warna oranye.

Matahari sudah hampir tenggelam, batin Byul.

Tanpa sadar, kucing abu-abu itu tertidur. Langit sudah menjadi gelap saat ia membuka matanya. Teman-temannya pun sudah kembali ke kandang mereka masing-masing.

Namun, benda kecil  dan terang yang melompat-lompat mengalihkan perhatian Byul. Seorang peri kecil sedang bermain.

“Hey,” panggil Byul.

Peri tersebut menoleh. Ia terlihat terkejut.

Tubuhnya sangat kecil. Hebat sekali jika ada yang bisa melihatnya.

Peri itu menghampir Byul. “Kau bisa melihatku?” tanyanya.

Byul mengangguk.

“Hebat sekali. Sudah dua minggu aku bermain-main di sini, tapi hanya kau yang menyadari keberadaanku. Sebagai hadiah, aku akan mewujudkan satu permintaanmu,” ucap peri itu.

Byul berpikir sejenak, kemudian mulai menceritakan tentang hari kemarin kepada sang Peri. “Seseorang akan datang besok. Ia akan memilih antara aku dan Debby untuk diadopsi. Aku sangat ingin mempunyai Tuan. Namun, tidak akan ada yang memilihku. Buluku biasa saja, buntutku jelek, suaraku pun cempreng. Bisakah kau membuatku menjadi indah agar orang itu memilihku? Kumohon,” pinta Byul.

Peri tersebut hanya tersenyum kecil. Ia mengayunkan telunjuk kecilnya ke arah Byul beberapa kali, kemudian serbuk emas kelap-kelip mulai muncul di sekitar Byul.

Kucing itu tersenyum bahagia. Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih. Bahkan Byul masih menggumamkan kalimat tersebut sampai si Peri pergi.

“Ini hanya bertahan selama dua belas jam. Gunakanlah dengan baik, Byul!” seru peri tersebut sebelum benar-benar menghilang dari pandangan.

Keesokan harinya, orang yang Byul sebut akan memilih antara dirinya dengan Debby datang. Tepat jam sembilan pagi. Meski sudah mengelilingi seluruh kandang, orang itu tak kunjung mengungkapkan pilihannya. Lima belas menit lagi Byul akan kembali menjadi wujud aslinya.

Ayolah! Batin Byul.

“Ke mana kucing yang memiliki buntut pendek kemarin? Aku tidak melihatnya di mana-mana,” ucap orang itu.

Byul terkejut bukan main. Ia merasa seperti sedang bermimpi saat ini, namun peri kecil semalam datang menghampirinya, dan tersenyum kecil. Senyuman yang sama seperti saat peri itu memunculkan serbuk emas di sekitar Byul, kemudian terbang dan menghilang.

Byul berlari ke bawah meja. Berharap waktu berlalu dengan sangat cepat agar ia segera kembali ke bentuk semula.

Gotcha!

Byul kembali menjadi kucing abu-abu dengan buntutnya yang pendek dan menggemaskan. Ia berjalan pelan keluar dari bawah meja, kemudian mengeong. Orang itu tersenyum hangat, dan mengangkan Byul ke pelukannya.

“Aku akan mengadopsi yang ini,” ucapnya halus.

Byul sangat terharu, dan hari itu menjadi hari terindah sepanjang hidup Byul. Selanjutnya, ia hidup dengan bahagia bersama keluarga pengadopsi tersebut, dan menjadi lebih menggemaskan dari sebelumnya.

Bagaimanapun penampilanmu, mencintai diri sendiri adalah hal yang terpenting.

 

Dyah Lunnarsuci Hayuningtyas, Sekolah di Omah Dongeng Marwah