Permintaan Beluga

Beluga, si lumba-lumba kecil, berenang menyusuri lautan, tanpa tujuan. Pandangannya terus ke bawah dan pikirannya dipenuhi oleh Tufi, sahabatnya yang terjerat jaring nelayan beberapa jam lalu. Beluga merasa sedih dan sangat bersalah karena tidak mampu menolong Tufi. Ia terus berenang tanpa tujuan, berharap keajaiban datang agar Tufi kembali. Temannya itu pasti sangat ketakutan sekarang.

Tanpa sadar, air terlihat semakin gelap. Matahari telah terbenam. Beluga berenang di antara ganggang-ganggang, berlindung dari ikan berukuran lebih besar yang mungkin akan memangsanya.

Selagi berenang, setitik cahaya menarik perhatian Beluga yang ternyata berasal dari kalung milik April, putri dari Kerajaan Duyung. Tubuhnya terikat oleh ganggang-ganggang dan ekornya terjebak di antara batu karang. April sudah menangis meminta pertolongan sejak tadi, namun tidak ada yang datang.

Tidak tega, Beluga membantu membebaskan April dengan menggigit ganggang-ganggang yang mengikatnya, menarik tubuhnya, dan mendorong batu yang menindihi ekor April. Tak lama kemudian, ikatan-ikatan ganggang tersebut terlepas dan April tak lagi terjebak.

“Terima kasih, lumba-lumba kecil. Siapa namamu? Maukah kau ikut bersamaku ke istana?” ucap April tanpa jeda. Ia begitu berterima kasih.

“Namaku Beluga, Putri. Jika engkau mengizinkan, dengan senang hati aku ikut bersamamu.”

April tersenyum senang. Ia berenang menuju istana, diikuti Beluga di belakangnya. Sesampainya di sana, April menceritakan apa yang terjadi kepada sang Raja, ayahnya. Raja pun begitu berterima kasih. Beliau memberikan Beluga satu permintaan yang pasti akan dikabulkan.

“Bolehkah aku meminta engkau mengmbalikan temanku, Tufi? Ia terjerat jarring milik nelayan dan sekarang berada di permukaan laut. Tufi pasti ketakutan sekali saat ini. Sebelumnya, terima kasih, Baginda.” Beluga menunduk hormat.

“Dengan senang hati, Beluga,” ucap sang Raja.

Beliau langsung mengutus dua pengawalnya untuk berenang ke permukaan dan mencari Tufi. Lumba-lumba kecil itu terus menunggu hingga ia tertidur. Esok harinya, sebuah suara yang memanggil-manggil nama Beluga, mengganggu tidur pulasnya. Namun, Beluga tidak jadi marah saat menyadari suara tersebut berasal dari siapa. Ia membuka mata dengan semangat dan mendapati Tufi tersenyum gembira seperti tak ada apa-apa. Mereka berdua berenang bersama kembali ke rumah, tak lupa berterima kasih dengan Raja dan semua penghuni Istana.

 

Dyah Lunnarsuci Hayuningtyas, Sekolah di Omah Dongeng Marwah