Ragam

Sukai Warnamu

Tadi siang (15 Juni 2020), Aku dan Aira pergi ke sawah Bu Kusti untuk mengambil bunga kenikir warna kuning.  Di tengah perjalanan, kami mendapatkan catcalling oleh beberapa anak laki-laki yang melintasi jalan menuju sawah. Setelah itu Aira melontarkan pertanyaan kepadaku,

“Mbak, kenapa cowok kok lebih suka cewek yang kulitnya putih? Mereka menganggap kalo perempuan kulitnya putih tuh lebih cantik?” Hahaha, aku ketawa dalam batin. Soalnya, sebelum aku pergi dengannya, aku membaca artikel tentang perbedaan warna kulit. Ini semacam aku habis baca buku ujian setelah itu disuruh presentasi ke seseorang. Aku menjawab pertanyaan Aira dengan beberapa hal yang kuketahui.

Kulit putih memang banyak diidamkan oleh orang-orang, laki-laki maupun perempuan. Sering kali masyarakat memvisualisasikan mulia, indah, cantik, berseri dengan warna kulit yang putih layaknya ketombe di kepalaku. Terus yang kulit hitam bagaimana? Kebanyakan akan mengatakan bahwa yang berkulit hitam itu dekilumpurentan. Padahal, tanpa mereka sadari, apapun warna kulit kita, tetap bisa terlihat mulia, indah, cantik, dan berseri.

Cerita sedikit, dulu aku pun pernah tidak percaya diri dengan warna kulit busem kaya gitu. Apalagi lengkap dengan taburan jerawat pubertas yang membuat wajahku seakan-akan seperti orang habis terkubur di reruntuhkan gua selama jutaan tahun (alay banget sik bahasaku). Kemana-mana selalu ditanyain, ‘wajahmu kenapa?’ hingga ada yang dilanjut menawarkan berbagai macam produk. Awalnya, aku cuek bebek dengan omongan dan tawaran mereka. Tapi ketika sepupuku yang dulu punya keluhan sama sepertiku dan datang kepadaku dalam keadaan kulit putih, glowing, licin kaya prosotan anak TK, dia kelihatan seperti barbie kala itu. Aku penasaran bagaimana caranya bisa metamorfosis wajah seperti itu.

Dia pun menunjukkan caranya, dia menggunakan krim yang dibeli di salah satu toko di pasar. Harganya sangat murah menurutku untuk ukuran produk kosmetik yang memberikan hasil luar biasa. Aku tergiur dengan iklan yang dia berikan. Setelah dia pulang ke rumahnya, aku searching tentang krim wajah tersebut. Ada di google ternyata. Tanpa pikir panjang, aku meminta bantuan sepupuku untuk mengantarkanku ke toko yang menjual krim tersebut. Dia pun menyanggupi. Akhirnya, kudapat krimnya, yeaayyy.

Pertama kali kucoba, belum ada perubahan apapun kecuali wajahku jadi wangi, hiks. Lima hari kemudian, kulitku mengelupas. Sempat panik karena rasanya wajahku ketarik, dibuat senyum pun rasanya kaku. Aku tanya ke sepupuku, dia bilang jika itu sudah lazimnya. Akhirnya, oke, aku kembali tenang. Satu bulan memakai krim, hasilnya tampak memuaskan untukku yang ingin mempunyai wajah putih saat itu. Suka dengan hasilnya. Dan banyak orang yang memuji penampilanku yang baru kala itu. Makin terbang tinggi di atas awan deh.

Tapi lama-kelamaan, kulitku rasanya perih sekali, mataku pun rasanya seperti pedih dan sering ingin menangis jika aku pakai krim itu. Belum lagi ketika aku keluar ruangan, terkena paparan matahari langsung, rasanya wajahku panas terbakar. Karena tidak tahan dengan rasanya, aku memilih untuk berhenti memakainya. Masya Allah, makin berabe nih urusan muka.

Pertama, mukaku perlahan kembali kusam dan berjerawat. Untuk mengurangi keluhan tersebut, aku mulai berburu produk skincare, produk apapun kucoba. Alhasil, bukannya makin glowing, shinning, shimmering, splendid, cantik  tapi malah makin burik saja. Kulitku jadi sensitif. Salah perawatan sedikit, jerawat seperti  main keroyokan di muka. Saling tumpang tindih, silih berganti. Ditambah dengan omongan tidak sedap dari beberapa orang yang bilang, ‘wah, mukamu kenapa? Dulu kayanya baik-baik aja, kebanyakan pacaran sik, kok sekarang jelekan? Kok balik item lagi, Blablabla’ makin pengen bunuh diri tau nggak?

Dari situ, aku mulai kembali ke mindset awal, nggak perlu punya kulit putih untuk bisa dibilang cantik. Oh, iya. Tadi kan aku hanya bilang cerita sedikit yah, kok banyak banget? Hehehe.

Dah. Kembali ke laptop, apakah cantik bisa dibedakan dengan warna kulit? Putih sudah pasti cantik, hitam pasti burik? Mari kita lihat…

Ternyata kulit putih sudah menjadi dampak dari marketing berbagai macam produk kosmetik. Itulah mengapa banyak perusaahaan yang memunculkan produk whitening dan brightening. Lalu dampaknya muncul mindset dari beberapa pendapat, stigma, dan informasi yang berkembang di masyarakat terkait kecantikan, lalu muncul standart bahwa cantik di Indonesia harus putih. (Riset ZAP clinic dan mark plus 59,6% wanita Indonesia menginginkan kulit cerah).

Padahal, beberapa dokter menyatakan bahwa cantik tidak harus putih. Kulit sehat pun tidak melulu berwarna putih. Ciri-ciri kulit sehat, yaitu jika dilihat kasat mata, tidak terlihat adanya jerawat dan komedo pada wajah, warna kulit merata dan tidak belang, elastisitas baik, kulit bisa merenggang dan kemudian kembali ke keadaan normal. Lalu tekstur kulit lembut dan halus.

Dibandingkan  kulit putih, kulit cerah lebih direkomendasikan oleh dokter, lho. Karena manusia mempunyai warna kulitnya sendiri. So, sukai apapun warnamu dan jangan membuat kotak-kotak warna, yahhh! Love your self and to be your self!

Nih, biar gak insecure ku kasih lihat cewek yang tetap cantik tanpa kulit putih.

 

View this post on Instagram

 

💋🤰🏻👩🏽‍🦳🧑🏻👩🏾👩🏼‍🦲👩🏿‍🦱👧🏻🧕🏽👵🏻👸🏽🌸✨

A post shared by Tara Basro (@tarabasro) on

Catatan:

Tulisan Ervina Dwi Setyaningrum ini diambil dari jawaban soal Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada Penilaian Akhir Tahun Kelas XI Tahun Pelajaran 2019/2020, jawaban dari soal berikut: “Perbedaan agama dan suku kerapkali dijadikan pemicu kerusuhan. Bagaimana pendapatmu terkait perbedaan yang kamu alami dalam bersosialisasi dengan keluargamu, teman-temanmu dan orang lainnya? Tulislah esai bertema “Perbedaan” dengan bahasamu sendiri.”

Tinggalkan Balasan