Asal Usul Tradisi Bulusan

Inilah cerita tentang Bulusan, tradisi di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Jekulo. Sebuah tradisi keramaian di musim kupatan yang sudah turun temurun dari dulu hingga sekarang.

Mungkin tak banyak orang yang tahu bagaimana sejarah dan asal-usul tradisi Bulusan. Padahal setiap musim kupatan tiba, ribuan orang berkunjung ke tempat tersebut. Bagaimana asal-usul tradisi Bulusan? Inilah ceritanya…

 

Ajeng membacakan dongeng bulusan dalam acara Dongeng Kemerdekaan pada tahun 2015 (Dok. OD)
Ajeng membacakan dongeng bulusan dalam acara Dongeng Kemerdekaan pada tahun 2015 (Dok. OD)

Cerita Bulusan mengisahkan tentang Mbah Dudo, seorang alim ulama penyebar agama Islam di Kudus. Dia mempunyai murid bernama Umara dan Umari. Dalam perjalanannya menyebarkan agama Islam, Mbah Dudo berniat mendirikan pesantren di kaki Pegunungan Muria.

Pada Bulan Ramadan, tepatnya pada waktu malam Nuzulul Quran, Sunan Muria datang untuk bersilaturrahim dan membaca Alquran bersama Mbah Dudo, sahabatnya. Ketika sedang membaca AlQuran, sayup-sayup Sunan Muria mendengar suara ‘’krubyaaak-krubyuuuk…’’

Kemudian Sunan Muria keluar untuk melihat suara itu. Dalam perjalanannya, Sunan Muria melihat Umara dan Umari dan beberapa warga desa yang sedang ndaut atau mencabuti bibit padi di sawah pada malam hari. Sunan Muria berhenti sejenak dan berkata kepada mereka,

“Lho, malam Nuzulul Quran kok tidak baca Alquran, malah di sawah krubyak-krubyuk seperti bulus saja!”

Akibat perkataan itu, Umara dan Umari serta warga desa seketika itu juga berubah menjadi bulus (kura-kura air tawar).

Tak lama kemudian, Mbah Dudo datang untuk meminta maaf atas kesalahan itu kepada Sunan Muria. Namun nasi sudah menjadi bubur, mereka sudah menjadi bulus dan tidak mungkin dapat kembali lagi berubah menjadi manusia.

Sunan Muria kembali melanjutkan perjalanan diikuti oleh Mbah Dudo dan puluhan bulus penjelmaan santri-santrinya, menuju selatan. Di tempat tersebut, dia berhenti sejenak di sebuah gundukan tanah. Di lokasi kemudian hari dikenal sebagai wilayah Prasman. Konon, Sunan Muria ”tersenyum” (bahasa lokalnya mrasman) mengingat kejadian yang baru saja dia alami.

Sunan Muria kembali meneruskan langkah ke selatan, di suatu tempat Sunan berhenti dan mematung memikirkan nasib Mbah Dudo dan santri-santrinya. Beberapa orang yang menyaksikan sikap Sunan kemudian menyebut tempat tersebut sebagai Togog.

Di tempat itu, Mbah Duda memberanikan diri menanyakan nasibnya beserta para santri. Mendengar hal itu, Sunan kembali mengajak Mbah Duda melanjutkan perjalanan ke utara. Di tengah perjalanan, dia mengambil sebatang kayu adem ati (menyerupai batang pohon kluwak) dan menancapkannya di suatu tempat.

Ketika batang kayu tersebut ditancapkan, keluarlah mata air yang kemudian dipercaya menjadi asal sungai Sumber. Sehingga tempat itu diberi nama Dukuh Sumber. Dan kayu adem ati yang ditancapkan kemudian tumbuh menjadi pohon Adem Ati atau ada juga yang menyebut Pohon Tombo Ati.

Setelah itu, Sunan kembali bersabda dan memerintahkan Mbah Duda beserta para santrinya yang berwujud bulus itu untuk menjaga daerah tersebut dan menjanjikan bahwa akan ada orang yang memberi makan pada mereka.

Sambil meninggalkan tempat itu, Sunan Muria berkata, “Besok anak cucu kalian akan menghormatimu setiap seminggu setelah hari raya bulan Syawal. Tepatnya pada saat Bodo Kupat, alias Kupatan.

‘’Itu cerita tentang cikal bakal atau asal usul tradisi bulusan.’’ Sekian dan terima kasih.