Ilustrasi (learningandcreativity.com)

Bajak Laut yang Menakutkan

Aku masih pusing ketika kendaraan yang kami naiki sudah sampai di lokasi. Kepalaku rasanya sakit sekali. Alam sekitar seperti berputar. Sepanjang perjalanan dari Kudus sampai ke Lamongan, aku berkali-kali muntah.

Hari itu aku ikut rombongan ibuku dan teman-teman kerjanya piknik ke Wisata Bahari Lamongan (WBL) di Lamongan, Jawa Timur. Ibuku, Sulikah, bekerja di pabrik jenang di Kaliputu. Selain aku, yang diajak ibu adalah kakakku, Nur Endah Murniatiningrum. Sedangkan bapakku, Suroso tidak ikut. Kami duduk di bagian tengah.

Itulah pengalamanku pertama kali ke WBL. Saat itu aku masih kelas satu SD 1 Panjang, Kecamatan Bae, Kudus. WBL menurutku tempatnya seru, indah, dan menarik. Pusingku terasa hilang ketika melihat isi permainan di WBL.

Kami mencoba berbagai wahana, seperti spur dan permainan yang cocok bagi anak-anak lainnya. Aku sebenarnya tertarik bermain ayunan yang memutar, tapi karena takut pusing lagi, aku tidak jadi naik.

“Ayo kita masuk wahana itu,” ajak ibuku.

“Itu apa, Bu?”

“Ibu juga belum tahu. Ayo kita lihat saja,” kata ibu sambil menggandengku masuk.

Ternyata, itu adalah wahana permainan bajak laut. Seketika itu aku merinding karena ruangannya gelap. Aku mulai ketakutan. Tapi aku penasaran jadi tetap ikut masuk ke dalam.

“Haaaa!” aku terkejut.

Di depanku terdapat sebuah tengkorak. Tangannya bergerak-gerak seperti memanggilku. Aku benar-benar merinding. Sepertinya aku hampir kencing di celana.

“Bu, emoh, Bu, aku wedi (aku takut),” kataku.

Kami terus berjalan. Ternyata tengkoraknya terlihat semakin banyak. Semua tengkorak itu bergerak-gerak sambil bersuara yang menakutkan sekali.

“Hmmmmmmm…..” terdengar suara dari tengkorak-tengkorak itu yang membuatku lebih ketakutan.

“Bu, ayo metu (ayo keluar).”

“Bu, ayo metu (ayo keluar),” kataku. Karena rasa ketakutan, aku hampir menangis.

Cekelan ibu sing kenceng (pegangan ibu yang erat).”

Ternyata, suasananya itu semakin seram. Selain ada banyak tengkorak juga bajak laut.

Penampilannya juga menakutkan. Matanya ditutup satu, tangannya bergerak seperti ingin menangkap pengunjung.

“Emoh, Bu. Ayo metu.”

Karena tak tega melihatku yang ketakutan, ibuku mengajakku keluar. Ibu menggandengku. Juga merangkulku. Aku merasa aman dari ancaman para tengkorak dan bajak laut yang ganas itu.

Akhirnya sampailah kami di jalan menuju keluar. Aku buru-buru keluar. Ternyata di luar terang sekali karena memang hari masih siang. Ibuku masih menggandengku yang membuatku merasa terlindungi. Bebaslah aku dari rasa ketakutan bajak laut dan tengkoraknya yang mengerikan. Terima kasih ibuku. (*)