Vector of vintage camera

Foto

Vector of vintage camera (Freepik)

SEORANG lelaki berusia 45 tahunan berlari sepanjang 150 meter di depan mobil Innova warna putih. Ia tidak sedang berlomba. Tapi, tengah menunjukkan jalan bagi penumpang bertopi fedora di dalam mobil itu untuk sebuah foto.

“Terima kasih sudah mampir di warung saya,” kata lelaki penjual nasi “pedo” itu, terengah-tengah, seperti pelari yang baru saja melewati garis finish.

Bagi istrinya, lari 150 meter adalah lomba. Kemenangan pedagang kecil. Sejam lalu suaminya mendatangi panggung check sound band papan atas Indonesia di Simpang Tujuh, Kudus, 19/1/2019. Ia menghampiri artis band itu dan memintanya mampir. Menunggu satu jam hingga sesi check sound berakhir adalah lomba lari dengan start paling lama.

Dan ketika artis itu memenuhinya, lelaki itu seperti baru saja merobohkan teori ketidakmungkinan warung kelas fans dikunjungi artis. Bukan mimpi. Ini artis beneran. Piyu, leader group band Padi, berdiri di depan warungnya siang itu.

“Ijin foto, ya, Mas,” kata lelaki itu mengajak istrinya. Jeprat! Jepret! Beberapa orang di sekitar situ ikut selfie. Untuk apa harus menunggu satu jam dan lari sejauh 150 meter jika akhirnya hanya meminta artis itu untuk foto? Kenapa tidak saat di dekat panggung itu saja? Jika kita tahu foto-foto baru lelaki itu di akun sosmednya, dan bertambahnya pelanggan setelah itu, sudah tak penting lagi pertanyaan itu diajukan.

Hadangan orang yang meminta foto ketika mengunjungi tempat lain, lebih dahsyat lagi. Awalnya satu, lalu mengajak temannya. Selesai? Tidak. Orang lain yang memperhatikan adegan itu ikut nimbrung dan meminta selfie. Ratusan orang datang dan meminta foto. Anehnya Piyu tak pernah menolak. Saya tahu dia lelah sekali dan beberapa kali menahan batuk. Dia benar-benar jadi “darling” masyarakat. Semua merasa fans-nya. Dan ritual wajib fans adalah meminta foto bareng artisnya. Saya yang menemani dia berkeliling seperti figuran alay yang tereliminasi. Kadang disuruh jadi tukang potret.

“Itu kenapa Mas Rommy dan saya nggak mau jadi artis,” seloroh saya di dalam mobil kepada Piyu dan Rommy, kawan aktifis jaman Orba yang kini memimpin Lembaga Sensor Film (LSF).

Di makam Sunan Kudus dan Sunan Muria, Piyu berkesempatan “bersilaturrahmi” di depan kedua makam itu. Duduk bersila dan memejamkan mata. Ia seorang Kristiani yang taat dan gemar mengunjungi situs-situs wali. Saya agak kaget waktu dua tahun lalu ia mengatakan ingin mengunjungi makam dua wali itu. Baru terlaksana hari itu dalam rangkaian tour “Padi Reborn” di Kudus.

Sebagai artis, Piyu pasti ingin menjadi manusia biasa. Menikmati waktu seperti orang kebanyakan. Tapi, di tengah crowd, jarak waktu dia masuk ke dalam mobil hanya sekian detik dari adegan dia berfoto dengan orang-orang yang berhasil menebaknya sebagai artis.

Hanya ketika dia mampir di sanggar Omah Dongeng Marwah (ODM), tempat kami membangun pendidikan bersama masyarakat, permintaan foto-foto itu reda. Omah gebyog ODM bukan situs. Tapi, dongeng yang nyaris punah, dan di situ Piyu mendengar anak-anak kecil mendongeng penuh percaya diri, seperti menemukan situs baru yang lama hilang dari keseharian kita. Ia seperti menemukan artis-artis cilik. Piyu mengambil beberapa foto dan video, akan menyimpannya sebagai kenangan.

Salam dongeng!

HA, ODM