water droplets against clouds

Hujan

BEBERAPA waktu lalu guru organik Akar Tani Makmur (ATM) Pak Yeman Subeno mengatakan perihal anomali cuaca dan dampaknya bagi pertanian. Salah satunya panas terik akibat lubang ozon yang makin menganga. Rasa panas terjebak dalam tungku alam yang disebut efek rumah kaca. Ungkeb! Begitu bahasa dapurnya.

Hari-hari ini kita menghadapi cuaca seperti itu. Sementara, hujan yang diharapkan turun tahun ini, datang sangat terlambat. Petani telah menunggu sejak September lalu. Jika ada rindu paling berat yang dirasakan petani, kerinduan itu adalah hujan. Penantian yang paling syahdu, ya.

Layaknya persaingan dalam perniagaan tani, kemarau telah merebut hak penghujan. Berkompetisi merebut musim. Para peramal cuaca mencari banyak sekali alasan menjelaskan mundurnya musim hujan. Berdebat mulai yang ilmiah sampai yang paling payah. Tahukah mereka, di desa, para petani masih menyimpan cangkul dan arit di buritan, memilih hangout di pematang sawah dari pada mencangkul. Tak ada tanah yang bisa dibelah, sebab permukaan ladang masih sekeras batu. Hanya air hujan asam yang paling bisa menggemburkan kekerasan itu.

Mendatangkan air kali ke ladang berarti menukar BPKB motor kuno mereka ke koperasi untuk mendapatkan BBM. “Sssrekecer!” Bunyi starter mesin pompa akan terus macet tanpa itu.

Setelah seminggu ini mengambil waktu sela antara kegiatan tani dan pekerjaan, saya kembali dengan kesibukan mengurus pertembakauan di Jakarta. Ini perjalanan pertama saya dengan pesawat sejak tragedi jatuhnya Lion Air JT610 di Tanjung Karawang, Jawa Barat, 29/10/2018, lalu.

Dampak anomali cuaca itu saya rasakan juga Selasa, 6/11/2018, pagi kemarin. Saya tertidur dalam perjalanan darat lepas shubuh dari Kudus menuju bandara A. Yani Semarang. 60 km jarak tempuh. Suara berisik klakson dan siraman air menimpa kaca mobil yang kami tumpangi. Bunyi derit karet waper penyaput buram kaca depan mobil, membangunkan saya dari tidur beberapa saat.

“Waduh, hujan deras banget!” Sapa saya spontan. Hujan turun di Semarang menyambut kami. Saya bangun dalam kekagetan. Makin deras hujan, makin kencang suara waper berderit. Dan waktu terus berputar, bergegas bersama detak lampu yang menyala hijau dalam timer digital di dalam daskboard. “Semoga cukup waktuku sampai di bandara pagi ini,” doa saya dalam hati.

Ini hujan subuh pertama yang saya temui di musim kemarau 2018. Pakaian rangkap dua yang saya kenakan tak bisa meredam dingin suhu di dalam mobil meski AC sudah diputar 25°C.

Kengerian cuaca anomali segera menyergap saya. Sebentar lagi terbang dengan Batik Air. Ini airline seperkongsian dengan JT610 yang jatuh itu. Dengan cuaca anomali saat ini, melintasi awan saat pesawat take off mungkin sengeri ketakutan petani melihat keringnya ladang. Saya berharap tak ada suara “Sssrekecer!” pompa pada mesin jet yang kami tumpangi. Duh, Gusti.

Tapi, doa menyudahi semua kekuatiran itu. Allahumma anta al-shohibu fi al-safarii (Ya Tuhan, temanilah kami dalam perjalanan ini). Haadza wathwi ‘anna bu’dahu (dan perpendeklah jaraknya).

Pesawat menembus awan beberapa saat setelah pramugari menutup bicara. Jam menunjukkan pukul 07.45 wib. Tapi, tak juga segera menembus langit cerah seperti biasanya. Dalam cuaca buruk seperti itu sangat mungkin peluang menemui turbulensi. Ruang di mana tiba-tiba kita serasa kosong tanpa tekanan udara, dan pesawat bisa terbanting dalam perkalian antara kecepatan dan berat.

Saya teringat kata-kata direktur sebuah perusahaan besar yang terbiasa menghadapi cuaca buruk dengan pengalaman perjalanannya ke LN. “Pesawat dirancang menghadapi badai. Jadi, jangan terlalu risau menghadapi turbulensi,” katanya. Saya agak tenang mengingat itu.

Saya datang terlambat dalam suatu rapat, karena memilih naik KA dari pada pesawat, sejak tragedi AirAsia QZ8501 trip Surabaya-Singapura di perairan Pangkalan Bun, Desember 2014 lalu. Kemudian direktur itu menasihati saya. Sejak itu, saya mulai lagi terbiasa naik pesawat seminggu dua kali.

Tapi, membicarakan kegentingan yang terjadi di ruang angkasa sambil nyruput kopi dan udud kretek 76 di daratan, tak sama dengan kegentingan yang impulsif saat menghadapinya sendiri. Real time!.

Dan waktunya tiba. Saya tak melakukan kegiatan apapun di kabin itu. Biasanya mendengar musik atau mengetik. Bahkan tawaran breakfast saya tolak. Di belakang saya, para penumpang duduk terdiam dan hening. Pembicaraan tentang pesawat Lion Air yang jatuh minggu lalu lamat-lamat terdengar sekali-dua kali. Lalu hilang.

Beberapa menit ketegangan berlalu. Cepat sekali laju pesawat ini. Tak terasa 45 menit terlewati. Pesawat menembus langit Jakarta yang amat cerah. Pramugari mengumumkan sebentar lagi pesawat landing di Soekarno-Hatta. Tak ada titik air di kaca jendela. Hujan mungkin berhenti di atas perairan Cirebon. Saya sepanjang jalan berdoa dan memejamkan mata. Ketegangan hilang seketika.

Hujan dan badai muncul seperti kilat. Datang lalu pergi. Jaraknya sepanjang merasakan kegalauan dalam kegentingan itu. Dan doa menyudahi semuanya. Setelah 45 menit berlalu, saya baru sadar, ternyata saya telah “bermusuhan” dengan petani dalam doa. “Tuhan, sudahilah hujan dan badai ini,” pintaku. Sedang, di pematang sawah para petani memanjat doa yang berbeda, “Tuhan, turunkanlah hujan, segera.”

Duh, sahabat petaniku, maafkan saya.

Bapak/Ibu yth, demikian cerita saya tentang hujan dan kegalauan hari ini.

(Kamar kos, Jakarta, 6 Nop 2018)

Salam Dongeng!
HA, ODM