Persembahan untuk Stasiun Kudus

  • Acara
  • Anywhere

PERINGATAN 70 TAHUN AGRESI MILITER I BELANDA

Omah Dongeng Marwah (ODM) bersama komunitas Jaringan Edukasi Napak Tilas Kabupaten Kudus (Jenank) peringati 70 tahun Agresi Militer I Belanda di Stasiun Kudus, Wergu Wetan, Kudus, Jawa Tengah (21/7). Pada 1947 di Stasiun Kudus (KUD) mendapat serangan udara dari pesawat Mustang P-15 milik militer Belanda. Ratusan bekas peluru di kaca bangunan stasiun itu masih bisa kita lihat hingga kini.

Kegiatan ini dihadiri anak-anak dari ODM; seusia SD hingga SMA, Jenank, mahasiswa STIBI Syekh Jangkung Pati, mahasiswa STAIN Kudus, LPM Paradigma, Kofiku, PWI Kudus, dan pemuda-pemuda yang cinta sejarah lainnya.

Stasiun Kudus sudah dinonaktifkan sejak tahun 1986. Sempat beralih fungsi menjadi lokasi pasar, dikenal dengan sebutan Pasar Johar atau Pasar Wergu. Pada tahun ini pasar tersebut dipindah oleh Pemkab Kudus ke Pasar Baru di Loram Kulon, Jati, Kudus. Kini, bangunan kios-kios penjual di stasiun itu pun sudah tidak ada. Hanya puing-puing masih berserakan.

Anak-anak dari ODM dan anak muda yang ikut serta dalam kegiatan tersebut berdiskusi dan observasi. Edy Supratno dari Omah Dongeng Marwah membuka diskusi dengan menjelaskan peran Stasiun Kudus pada masa Agresi Militer I Belanda.

“Kita bersyukur tidak ada korban jiwa dalam serangan itu.Stasiun menjadi satu dari tiga titik bangunan di Kudus yang disasar pesawat moncong merah itu. Dua bangunan lain, paseban bupati di alun-alun Kudus dan pabrik Muriatex ikut jadi korban. Namun, kini dua bangunan itu sudah tak berbekas. Dengan demikian hanya tinggal bangunan stasiunlah yang menjadi saksi serangan itu,” jelas Edy Supratno.

Foto Bersama di dalam Stasiun Kudus

Selain di Kudus, pada hari itu, Belanda melancarkan serangannya berbagai tempat. Seperti di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Timur. Berbagai objek perekonomian vital ingin mereka kuasai. Dalam sejarah nasional, peristiwa ini menjadi catatan penting. Agresi ini kemudian dibahas di dunia internasional.

Generasi penerus perlu mengetahui sejarah ini, terlebih sejarah lokalnya. Apalagi Kudus bagian dari daerah yang menjadi sasaran serangan. Dalam rangka mendalami dan merawat pengetahuan tentang sejarah lokal, maka sudah sangat tepat jika generasi penerus dibawa ke Stasiun Kudus, tempat titik serangan itu terjadi.

“Harapannya, generasi penerus mengenal sejarah daerahnya dan bisa meneladani orang-orang yang telah berkorban untuk mempertahankan keutuhan negara Republik Indonesia,” tambah Edy Supratno.

Selepas diskusi semua peserta mengamati bangunan Stasiun Kudus. Sewaktu observasi, anak-anak dari ODM mencoba menghitung jumlah bekas peluru yang ada di kaca bangunan stasiun. Mereka berkelompok menjadi dua kelompok dan mulaimenghitung lubang satu demi satu. Setelah dihitung mereka melaporkan ada 220 lubang peluru.

Berkarya

Selain berdiskusi dan observasi, peserta kegiatan bertajuk Stasiun Kudus Luka 100 Tembakan ini diajak untuk membuat sebuah karya tentang Stasiun Kudus. Masing-masing peserta diberi kertas kosong dan dipersilahkan menggambar, menulis puisi, lagu, pantun dan lain sebagainya. Kebanyakan peserta menulis puisi dan menggambar.

Unjuk Karya: Anak-anak menyanyikan lagu parodi stasiun kudus dengan nada lagu ‘despacito’ Justin Bieber

Sebelum kegiatan berakhir masing-maisng karya dikumpulkan. Bagi yang menulis puisi boleh dibacakan terlebih dulu. Misalnya, Vina yang masih kelas VIII SMP 1 Bae Kudus membaca puisi berjudul Apa Salahku karya Edy Supratno.

Sedangkan, ketua komunitas Jenank Danar Ulil, membacakan puisinya Kau: Stasiun Koedoes. Puisi yang ditulis spontan tersebut berisi tentang kondisi Stasiun Kudus masa lalu, juga mempertanyakan kondisinya yang sekarang, sebagaimana terungkap pada penggalan puisinya:

Dan kini, kau sendiri dalam sepi/berdiri tegak menanti/menanti dipergunakan untuk apa jika kaumasih ada.

Rencananya seluruh karya yang terkumpul pada hari itu akan dibukukan. Bangunan cagar budaya seperti Stasiun Kudus, hampir sering berakhir pada peralihan fungsi yang menghapus nilai sejarahnya, misalnya menjadi mall atau pabrik. Kegiatan ini sebagai upaya pengukuhan Stasiun Kudus sebagai saksi bisu serangan Agresi Militer I Belanda di Kudus. Begitu. (Kak Naviz)

Baca juga artikel menarik lainnya terkait terkait Stasiun Kudus