http://www.nocleansinging.com/wp-content/uploads/2015/11/nuclear-explosion-e1447604409165.jpg

Ketika seluruh negeri runtuh, carilah guru yang tersisa

https://static.independent.co.uk/s3fs-public/thumbnails/image/2015/08/06/09/abombdrop.jpg

Senin kliwon, 6 Agustus 1945 pagi, cuaca dingin masih menyelimuti seluruh negeri. Di musim panas di Hiroshima saat itu, dingin suhu pagi terasa menusuk perih perut anak-anak yang masih belum terisi. Masa paceklik akibat musim panas yang panjang dan perang yang tak usai-usai, telah menurunkan drastis hasil panen petani. Anak-anak mudah

terserang lapar dan kurang gizi.

 

Di saat anak2 belum semua terbangun, suara pesawat tempur di atas langit meraung-raung, bagai alarm raksasa yang memecah genderang telinga.

 

Tepat pukul 08.15, bom diluncurkan dari pesawat tempur Amerika, menggelegar, meluluh-lantakkan Hiroshima yang muram.

 

Anak-anak yang lapar dan kurang gizi itu tewas bersama 70 ribu penduduk sipil dalam peristiwa bom atom pagi itu. Tiga hari kemudian korban tewas bertambah 80 ribu di Kota Nagasaki pada 9 Agustus 1945.

 

Jepang, sang pemberani dari timur, itu jatuh. Dan moral penduduk ikut pula runtuh.

 

Di antara puing-puing dan ratusan ribu mayat yang berserakan itu, berdiri Kaisar Hirohito, meminta para jendral dan kaum terpandang mencari segolongan orang spesial yang masih tersisa.

 

“Carilah guru-guru yang masih hidup. Bangunlah kembali Jepang dari pundak mereka,” katanya dalam pidato penuh emosi di depan para tentara dan penduduk sipil yang masih tersisa.

 

Dengan jarak lebih dari 6 ribu km dari Hiroshima, di barat daya nun jauh di Jakarta, Indonesia memerdekakan diri. Dengan usia hampir sama membangun negeri, Jepang melesat lebih maju dari kita. Hirohito sangat tahu caranya: mencari guru dan pendidik di antara bara dan puing-puing itu. Ia tak memilih melakukan harakiri setelah kehancuran itu, justru ia baru mulai.

 

Anak-anak yang lapar dan kurang gizi itu kini memasuki usia renta. Mereka tak pernah melupakan kengerian pagi di Hiroshima yang dingin dan muram itu. Ia membangun kembali melalui moral dan teknologi. Sedangkan kita, lebih sering melupakan diri.

 

Salam Dongeng!

ODM

Kak Hasan

(12/11/2017)