potato chips on white background

Krupuk

JIKA ada yang belum lengkap ketika makan, itulah “krupuk”. Martin Boon harus menempuh jarak lebih dari 14 ribu km dari Belanda menuju Indonesia, dan 15 jam terbang dalam suhu dingin untuk krupuk. Seberapa penting krupuk bagi Martin?

Makan siang di Salatiga tahun 2018. Kang Din (Gus Ahmad Bahruddin) dan Mbak Harsun, pendiri Serikat Paguyuban Petani Qoryah Thoyyibah (SPPQT), mengajak Martin makan di sebuah warung. Membuka “blek” yang di dalamnya berjejer krupuk. Tak biasa bagi orang asing makan krupuk. Bahkan nasi dari padi sekalipun.

Tapi, itu akan menjadi makan siang paling bersejarah. Ia kembali dua kali ke Indonesia setelah itu untuk barang yang beratnya sedikit melebihi kapas ketika terbang. “Saya ingin memopulerkan krupuk ke Eropah,” janjinya.

Ia bukan sejarawan ketika ingin memastikan bagaimana krupuk dibuat. Datang ke Kudus pada 20 Januari 2019, lalu, hanya untuk mengetahui tanaman ketela, setelah gagal datang pada Mei 2018. Ada dua jenis singkong yang ditanam petani di Kudus, “Markonah” dan “Daplang”. Keduanya oleh Martin akan dikirim ke pabrik di Pati menjadi serpihan tapioka. Kelak tepung ini diubah menjadi krupuk oleh pabrik di Surabaya. Bagaimana sejarah krupuk sampai hinggap di atas gundukan nasi yang tersaji di atas piring, begitulah Martin mencatat.

Inilah cara Fairtrade Original (FTO) bekerja. Martin bagian dari lembaga itu. Tak saja memastikan metamorfosa perubahan dari ketela menjadi tepung, lalu adonan dalam panci-panci berbentuk gilig yang dibentuk sesuka pelanggan setelah itu, dan akan berakhir di atas jemuran menjadi krupuk kering siap goreng. Ia juga harus meyakinkan, petani yang menanam adalah kelompok yang bekerjasama dalam koperasi. Selebihnya syarat higinietas. Aspek ketelusuran (traceability) barang bagi FTO adalah rukun alias wajib.

Seringan Martin menjelaskan maksud untuk menaikkan kelas krupuk Indonesia di Eropah, seringan itu pula para petani di bawah Kelompok Tani (Poktan) Akar Tani Makmur menyambutnya datang. Mbah To, salah satu petani kami, menyambut Martin dan rombongan dari SPPQT dan wakil pabrik krupuk, dengan “Pipeling” Jawa dan suluk “Lir-ilir” Sunan Kalijogo. “Are you angry?” tanya Martin kepada Mbah To, sebab nasihat dalam Bahasa Jawa yang diungkapkan tidak disertai senyum umumnya orang Indonesia.

Tapi, petani kita memang layak “marah”. Sebab sampai hari ini hotel-hotel dan resto mahal di Indonesia, masih berat memajang krupuk di atas meja makan mereka. Barang seringan itu berat sekali ditimbang-timbang. Seolah hotel dan resto akan turun kelas dengan memajangnya.

Tapi, biarlah dunia terbalik. Di dua tempat itu boleh krupuk tak dikenal. Tapi, seluas Eropah, sampai ke Amerika, dan Prancis, krupuk akan terbang mengelilingi dunia. Tempat di mana sumber-sumber kebijakan hotel dan restoran akan berubah karena kepopuleran krupuk. Kelak akan diputuskan krupuk harus bertengger dalam blek di atas meja makan di dua tempat itu di Indonesia. Di antara itu, mungkin ada yang ketelanya berasal dari para petani kami di Kudus.

Salam dongeng!

HA, ODM