Adegan dalam film Macan Putih Muria (2016) karya anak-anak Omah Dongeng

Macan Putih yang Sakti

Hari itu tanggal 21 Juli 1947. Langit sedang cerah. Tiba-tiba sebuah pesawat terbang rendah di atas langit Kudus. Suaranya meraung-raung keras sekali dan sangat mengagetkan.

“Wueng……..”

“Wueng…….”

Orang-orang dan anak-anak berhamburan keluar penasaran ingin tahu.

“Wueng…..!”

Pesawat itu kembali terbang rendah seperti menari-nari di udara.

“Hore…..” teriak anak.

“Montor mabur….njaluk duite…..”

“Montor mabur….njaluk duite….” Kata anak-anak sambil melompat-lompat kegirangan.

Saat anak-anak sedang kegirangan, untung saja ada yang melihat kalau bagian moncong pesawat itu berwarna merah. Di dekat ekornya bertuliskan Mustang P-15.

“Masuk….!”

“Sembunyi….!”

“Itu pesawat perang!” teriak seseorang.

Tanpa banyak bicara, semua orang langsung berlindung untuk menyelamatkan diri.
Tak lama kemudian pesawat itu datang lagi. Kali ini memberondongkan peluru.

Tetetetetetet……….
Tetetetetetet……….
Tetetetetetet……….

Ilustrasi Komando Macan Putih Muria (dreamstime)

Suara tembakan menyasar Stasiun Kudus saat orang-orang sedang menunggu kereta. Orang-orang langsung bersembunyi. Pabrik Muriatex juga jadi sasaran, termasuk kantor bupati Kudus. Paseban bupati hancur, atap stasiun bolong-bolong, dan pabrik Muriatex hancur. Sejak itu anak-anak merasa takut jika ada pesawat terbang rendah.

Itulah serangan tentara Belanda kepada tentara Indonesia. Suasana pun menjadi mencekam. Mereka takut jika sewaktu-waktu ada serangan udara mendadak lagi.

Setahun kemudian, kekhawatiran itu terbukti. Tentara Belanda bersenjata lengkap memasuki Kudus lewat darat. Tepatnya tanggal 19 Desember 1948. Tentara Indonesia mencoba menghadang di jembatan Tanggulangin. Tapi kalah jumlah dan kalah senjata.

“Mundur…..” teriak komandan tentara.

Tentara Belanda dengan leluasa masuk ke Kudus. Mereka menembaki bangunan-bangunan yang dicurigai bisa membahayakan di sepanjang jalan yang mereka lewati. Sampai di kota Kudus, iring-iringan itu sempat membuat penasaran dan ingin tahu. Mereka keluar ke jalan.

“Aduh….”

“Tolong….tolong….” seorang penjaga toko buku terkena tembakan tentara Belanda. Darah membasahi tubuhnya. Tidak berapa lama dia terjatuh.

Orang-orang tidak ada yang berani menolong. Belanda makin merajalela. Mereka menguasai gedung-gedung penting, termasuk kantor bupati Kudus. Subali, sang bupati terpaksa mengungsi agar selamat. Desakan tentara Belanda membuat tentara harus meninggalkan kota. Kekuatan tentara Indonesia memang tidak ada apa-apanya dibanding kekuatan Belanda. Mereka akhirnya bersembunyi di pegunungan Muria.

Di tempat ini tentara Indonesia membentuk Komando Daerah Muria. Komandannya dijabat Kapten Ali Machmudi, sedangkan bupati militernya dijabat Kapten Kahartan. Kekuatan senjata Belanda memang lebih kuat dan modern, tapi kekuatan semangat tentara Indonesia lebih kuat lagi. Kapten Ali Machmudi bersama anak buahnya selalu melakukan perlawanan secara gerilya. Misalnya aksi yang akan dilakukan sore itu. Mereka akan melakukan penghadangan.

“Prajurit,” kata Kapten Machmudi.

“Siap, Komandan!”

“Kali ini kita akan menghadang Belanda di Bergad. Kita memang kalah senjata, tapi sekali kaki melangkah. Kita pantang mundur. Lebih terhormat kita mati tertembak daripada melarikan diri,” kata Ali Machmudi memberi semangat anak buahnya.

“Siap, Komandan!”.

Ali Machmudi dan anak buahnya tak menyadari, rencana itu sudah tercium mata-mata Belanda. Segera saja informasi itu disampaikan. Di saat Ali Machmudi siap-siap akan berangkat, pasukan Belanda sudah menunggu dengan senjata lengkap di Bergad, Pati. Begitu tentara Indonesia sampai di lokasi, pertempuran langsung terjadi. Suara desing peluru bersahut-sahutan. Tentara Indonesia terdesak. Tapi semangat mereka tetap berkobar.

“Maju… Tetap semangat,” komando Ali Macmudi kepada anak buahnya.

“Maju…”

Tanpa diduga, tiba-tiba Kapten Machmudi terjatuh. Ternyata dia terkena peluru persis di dadanya.

“Komandan,” panggil anak buahnya.

“Iya. Teruskan perjuangan. Jangan pernah menyerah. Merdeka!” tak lama kemudian Machmudi tewas.

“Komandan!” kata anak buahnya.

Tapi yang dipanggil tak memberikan jawaban. Akhirnya jasad komandan itu digendong untuk diselamatkan. Hari itu banyak tentara Indonesia yang gugur.

Gugurnya Ali Machmudi berikutnya digantikan Mayor Kusmanto. Saat pemakaman berlangsung semua tampak sedih, termasuk Mayor Kusmanto. Sesaat meninggalkan kuburan Kusmanto melihat bayangan seekor macan. Bayangan itu diikutinya hingga Desa Glagah Kulon, Dawe, Kudus. Desa ini kemudian dijadikan markas baru menggantikan markas sebelumnya. Mayor Kusmanto berikutnya membentuk Komando Macan Putih. Jumlahnya sekitar 40 prajurit dengan keterampilan sangat terlatih.

Nama pasukan khusus ini diambilkan dari nama seekor macan yang menguasai pegunungan Muria. Macan ini sakti, tugasnya selalu melindungi markas Komando Muria. Macan ini juga selalu mengikuti jika tentara Indonesia melakukan gerilya. Meski demikian, karena kalah kekuatan, selalu saja ada tentara Indonesia yang tewas saat perang. Letnan Marboko tewas, Kapten Marwoto hilang. Letnan Wiyotomulyo juga tewas saat perang di Bangsri. Suatu hari, saat Mayor Kusmanto sedang rapat di markas, dari luar terdengar suara aneh.

“Aummmmm….”

Mayor Kusmanto tahu, itu adalah suara macan yang selama ini mengikuti mereka. Dia segera keluar markas. Saat pintu dibuka dilihatnya seorang anak kecil. Anak itu lalu ditemui Mayor Kusmanto. Mereka kemudian bicara berbisik. Tak lama kemudian terdengar lagi suara auman dan Mayor Kusmanto menjumpai anak buahnya.

“Siap, Komandan!” kata anak buah.

Mereka langsung berkemas-kemas. Ternyata macan tadi membawa informasi jika tentara Belanda akan menyerbu markas itu. Sebelum pukul 06.00 mereka harus meninggalkan markas. Informasi itu terbukti. Esok hari, Belanda menyerbu. Tapi Belanda kecewa karena markas sudah kosong melompong.

Mayor Kusmanto dan Pasukan Macan Putih terus bergerilya. Walau banyak yang tewas mereka tak pernah patah semangat. Cita-cita mereka hanya satu, Belanda meninggalkan Kudus secepatnya. Kabar baik itu pun datang juga.

Pada 27 Desember 1949 Belanda menyerahkan Kudus kepada tentara Indonesia. Upacaranya dilangsungkan di markas batalion. Pasukan Macan Putih akhirnya turun dari lereng Muria ke kota Kudus. Bendera Merah Putih Biru diturunkan. Bendera Merah Putih dinaikkan. Bersamaan itu dari pojok lapangan batalion terdengar auman macan pelan. Sejak itulah Kudus terbebas dari tentara Belanda.

“Merdeka!” kata komandan upacara.

“Merdeka!” sambut prajurit dengan bersemangat.

“MERDEKA!”(*)

Dongeng karya Edy Supratno