Mimpi Kudus Jadi Kota Film

Suara Merdeka, Suara Muria, 13 November 2017, Reporter Saiful Annas

ANAK-ANAK Omah Dongeng Marwah (ODM) membuktikan membuat film tak perlu peralatan mahal. Dengan cerita yang kuat, totalitas pemeran, dan kerja sama yang solid kru di balik layar, sebuah film bakal mendapat respons dan apresiasi positif dari penonton.

Anak-anak ODM membuktikannya melalui film pendek berjudul ”Mata Jiwa.” Film berdurasi 30 menit yang seluruhnya digarap anggota komunitas ODM itu diputar di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu (11/11) malam.

Sebagian besar yang terlibat mulai pemain, sutradara, hingga kru merupakan anak-anak yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Film karya komunitas yang bermarkas di Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kudus sebelumnya telah diputar di dua kota, yakni Salatiga (5/11) dan Semarang (9/11).15

Film ini akan diputar di tiga kota lain, yakni Purbalingga, Yogyakarya, dan puncaknya pada peringatan Hari Dongeng Nasional di gedung Kemdikbud Jakarta, 28 November mendatang. Sutradara Tsaqiva Kinasih Gusti menuturkan, film itu diangkat dari cerpen ”Bintang di Langit Jakartaî karyanya.

Film itu digarap selama delapan bulan. ”Kami akui sulit mengangkat keseluruhan cerita dari cerpen ke dalam film. Karena itu sejumlah bagian di cerpen tidak kami angkat di film karena berbagai keterbatasan.”

Pembuat film asal Kudus Warih Bayu Wicaksono yang membedah ”Mata Jiwa” mengapresiasi positif film tersebut. Tak hanya karena digarap oleh anak-anak SD dan SMP, namun karena secara teknis penggarapan layaknya dikerjakan sineas profesional.

”Saya semula tak percaya film ini garapan anak-anak SD dan SMP. Sebab secara teknik angle kamera sangat bagus. Hanya memang di sejumlah bagian ada kekurangan seperti kontinuitas gambar dan cerita, serta make up.”

Terlepas dari kekurangannya, pendamping komunitas ODM Andika Wardana berharap ”Mata Jiwa” harus bisa menjadi pemantik lahirnya film-film lokal di Kudus. Dengan potensi yang besar, ia berharap perfilman indie di Kudus akan tumbuh seperti layaknya di Purbalingga.

Karya Sastra

Cerpen karya Tsaqiva Kinasih Gusti, siswi kelas VII SMP Semesta, yang aktif di ODM itu menjadi salah satu karya sastra remaja terbaik versi Kemdikbud tahun 2016. Cerpen ini akan diterbitkan Kemdikbud sebagai bacaan sastra di SD/SMP/SMA di Indonesia. Film ini berkisah tentang anak usia 7 tahun dari keluarga pemulung di Jakarta bernama Jiwa, yang lahir dengan mata rabun.

Ibarat orang tuli yang berusaha bisa mendengar, atau anak lumpuh yang berusaha ingin berlari, seperti itulah mimpi Jiwa. Ia merindukan melihat cahaya pada malam hari sejak ayahnya mendongengi dia tentang bintang kejora di atas langit Jakarta.

Untuk membahagiakan ayahnya, ia mengaku sudah bisa melihat bintang kejora. Padahal yang dilihatnya tak lain kerlap-kerlip lampu hotel di sebelah bedengnya.

Dari hotel itulah penggusuran dimulai. Penggusuran ini memaksa keluarga itu kembali pulang ke kampung halaman. Film ini menggambarkan ketegaran Jiwa dalam menghadapi sulitnya hidup, bahkan lebih tegar dari ibunya sendiri.