Pantun

MESKI sering dihubungkan denganmu makna kerendahan hati, tapi sebagian hanya mengenalmu sebagai pantun Melayu: “seperti ilmu padi, semakin berisi, semakin merunduk”. Sedikit yang mengenalmu dalam makna leksikal Jawa sebagai tanaman padi (pantun), lambang kesejahteraan negeri ini.

Kuning warna bijimu saat dewasa, menempel pada ruas malai sepanjang siku, bergelayut merunduk, membuatku curiga: siapa yang telah mengawinimu sepenuh nafsu hingga kamu bunting dan mengibarkan “daun bendera”?

“Bukan nafsu, tapi cinta,” kata kupu-kupu, kumbang, dan serangga, tersipu malu berterbangan di antara kamu dan kecurigaanku.

Alangkah bahagianya para petani melihatmu hamil. Sebentar lagi kamu akan melahirkan bibit-bibit organik baru. Bersorak-sorai anak-anak petani berebut menggelar daun pisang di atas tampah. Meletakkan ani-ani di atasnya, dipakai seminggu lagi untuk memutus jaringan uterusmu, seraya menyeru hulubalang bahwa ritual “wiwit panen” sudah waktunya tiba.

Jadilah kamu padi seperti yang ditulis oleh para pujangga di Serat Centhini. Menjadi sego bubur, sego pulen, sego wudhuk, abang, akas, empal, golong, goreng, kresna, lemes, liwet, lodhoh, tumpeng, asahan, biru, gaga, canthel, lemeng, sego ulam, sego jagung, dan selapan (40) jenis sego lainnya.

Elok nian sikapmu. Tetap rendah hati meski anak-anak kota yang melahapmu setiap hari, tak mengenalmu. Anak-anak itu tak bisa kamu salahkan seluruhnya. Sebab, menteri tani dan dagangmu lebih suka mengundang saudara-saudaramu datang dari negeri seberang. Kamu kurang produktif, katanya.

“Mana bisa kalau rahimku dikebiri dengan pil-pil kimia itu. Kebutuhan nutrisiku tak dicukupi, dipaksa terus berjuang melawan musim dan waktu,” jawabmu.

Bagaimana memahami sejarah perjuanganmu dari tanaman padi menjadi beras, dan berubah nasi yang tersaji di atas piring itu? Sejak “wiwit panen” ini, anak-anak kota wajib tahu. Supaya mereka tak mengenalmu hanya sebagai tambatan arti kerendahan hati.

Orang-orang bijak bestari menyebutmu melalui pantun lain: “Sama-sama makan nasi, tak boleh ada yang merasa lebih tinggi.”

Biarlah gedung-gedung itu saja yang tinggi. Yang di dalamnya berkumpul para penghuni di restoran melahapmu setiap hari. Tinggi sekali hargamu di atas piring itu, tapi rendah harga tukarmu. Andai saja mereka mengerti perjuanganmu mengarungi hidup bersama keringat petani, mungkin mereka akan memuliakan kamu dan para petani yang miskin itu.

Melalui ritual ini, siapa tahu di antara anak-anak yang berkumpul di restoran itu ada yang mau memahami perjuanganmu. Tergerak menanam dan merawatmu, memetik berkah dari kerendahan hatimu, bukan harga tukarmu.

Nun jauh dari kota, di antara bunyi gamelan dan kicau pipit yang berterbangan di atas sawahmu, kuajak empat di antara mereka menari dan memegang ani-ani dalam ritual “wiwit panen” “pantun” ini.

Salam dongeng!

HA, ODM