Pementasan Anang-ing Muria (Kisah Cinta Nawangsih-Rinangku)

  • Pada 1 bulan lalu
  • Dipublikasi oleh Omah Dongeng Marwah

 

PARA PELAKON

 

 

  1. Tsaqiva as Nawangsih, wanita anggun, mencintai Rinangku, dilema dengan Bapaknya.
  2. Orion as Rinangku, lelaki bijaksana, pekerja keras, cerdas.
  3. Dharma as Sunan Muria, orang Tua saleh yang sangat menyayangi anaknya.
  4. Resar as Wage, santri tolol, sahabat Sastro.
  5. Alfian as Sastro, merasa kedudukan senioritasnya terancam atas keberadaan Rinangku
  6. Ervina as Suwaditra, seorang penari, kaya raya, penggoda.
  7. Eka as Nenek, misterius, symbol ruang dan waktu (zaman).

PENGANTAR ANANG-ING MURIA

Bagaimana mungkin sampai kepadamu, jika kau tak bisa bertanya pada yang mati?

Di sekitar makam itu, berdiri gagah nan rindang pohon-pohon jati. Orang-orang banyak yang menziarahinya. Niat hatinya bermacam-macam. Barangkali, di antara mereka juga ada yang senasib denganku. Cintanya tak direstui. Tapi kekasihku kurang setuju. Aku tak dibiarkannya larut dalam ambisi untuk menikah.

Aku Nawangsih. Kisahku lebih dari sekadar daun jati yang gugur ketika kemarau. Takluk kepada waktu, dan membiarkan dirinya jatuh, meski pernah begitu erat dengan rantingnya. Benarkah orang-orang tak tertarik dengan kisahku karena simpang siur dan tabu?

Konon, aku terbunuh saat bermesraan dengan kekasihku. Siapa yang melepaskan anak panah dari busurnya? Sehingga panah itu melesat ke tubuh kami dan orang-orang sekitar diam tak berkutik, terbelalak melihat kami sekarat. Lalu, konon karenanya bapakku menyumpah mereka menjadi pohon jati?

Ah, sudahlah. Kukira kisahku akan berhenti. Ternyata jauh dari tempat aku dimakamkan. Beberapa remaja di Omah Dongeng Marwah (ODM) membicarakanku. Mereka bukan menggunjingkan aku, seperti suara yang bising itu. Mereka akan mengolah kisahku dan mengangkatnya menjadi pertunjukan teater.

ANANG-ING MURIA , jujur aku penasaran. Karena ‘anang’ berarti cinta, ‘ing’ berarti di, dan Muria adalah nama gunung yang selama ini kutempati. Namun kenapa jika ‘anang’ dan ‘ing’ digabung menjadi ananging yang berarti ‘tetapi’? Memang ada Cinta di Muria, tetapi…

‘Tetapi’ di sini pasti akan bermakna banyak. Setiap dari kalian akan memiliki sudut pandang yang berbeda, seberapa sunyi dan peka rasa yang kalian miliki. Jangan sungkan untuk merenungkannya. Aku sendiri turut merenung kok!

Entah, apa yang membuat remaja ODM yakin untuk mengangkat kisahku. Padahal di luar sana masih banyak kisah-kisah serupa. Begitulah, memang kisah selalu diulang dengan tokoh yang berbeda. Semua orang akan menjadi perannya, menjadi cahaya atau bayangan. Jangan salahkan gelap. Bukankah kalian tak akan merasakan terang jika belum merasakan kegelapan?

 

POSTER