Dongeng Kartini, Puisi Tiyo Ardianto

  • Pada 5 bulan lalu
  • Dipublikasi oleh Omah Dongeng Marwah

Dongeng Kartini

 

Apakah ada Kartini di sini?

Apakah ada Kartini hari ini?

Apakah ada?

 

Kartini tuan puteri sejati

Melukis cahaya lewat kata-kata

Menafsirkan luka merambah sisi Eropa

Kemudian menguap menghujani Jepara.

Kalau tv bilang “Dan sekitarnya”

 

Seperti di film atau drama teater.

Kartini suka berKebaya

Kita tahu, ia tak punya pilihan

Saat itu, belum ada baju banana.

 

Sebagai Puteri Bupati

Kartini harus meminang presisi

Sampai basi, lebur dipanasi.

Sampai basi, lebur dikebiri.

Sampai basi, lebur dilucuti.

Atau menikah lagi? Menjadi istri ke sekian kali?

Kartini bukan membenci tradisi

Ia hanya ingin membaca dunia

Dan menghias dunianya

“Itu Sederhana” kata Saya.

 

Malam itu,

Kartini membuka jendela

Bulan tak sengaja mengintip raungnya.

 

Kartini bercerita kepada bulan

Bulan meringkuh memeluk Kartini

Sebagai Lazuardi, yang dirahasiakan dan disamarkan aksaranya

 

Sejak itu, Kartini hanya mencintai Bulan sebagai Kekasih dan tempat merintihkan suara.

 

“Itu Dunianya” kata saya.

 

//

“Saya Kartini, tadi dikatakan puteri sejati. Saya sedang melihat zaman. Sambil melanjutkan manuskrip saya. Ini bumi saya yang dulu bukan?

 

Bulan tak bisa berkata apa-apa.

Tanpa memalingkan muka

Bulan menutup mata Kartini.

 

Seperti biasa, Kartini tak suka dikekang.

 

“Saya Kartini, tadi dikatakan suka berkebaya.

Setelah saya lihat, pada hari saya lahir. Semua berpakai kebaya atau baju daerahnya. Menenteng mimpi kecil mereka. Harus dipastikan, mereka sedang sadar. Saya sedih, jika mereka terus tidur.”

 

Bulan ikut sedih.

Tanpa menangis atau gundah.

Bulan mengusap keringatnya.

Bulan sudah sangat basah.

Barangkali ia gugup, atas kebingungan Kartini.

Ia kelagapan, mau dibawa ke Negeri mana Kartini ini?

 

Kartini pulang ke kuburan, yang digalinya sendiri. Setelah perjalanan tadi. Ia masih tak bisa tidur nyenyak.

 

Kudus-Jepara

20 April 2018

Tiyo Ardianto