Usia Seabad turut Berproklamasi

  • Pada 2 tahun lalu
  • Dipublikasi oleh Omah Dongeng Marwah

Mbah Mundira berusia 29 tahun waktu teks proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.

 

Nun jauh di Kudus, sayup-sayup dia mendengar Indonesia sudah merdeka. Itu pun beberapa tahun setelah proklamasi dibacakan.

 

Dia tak pernah hapal teks itu. Sekilas saja dia mendengar ketika anak-anak menyalakan TV dan menyiarkan berita kemerdekaan. Lalu hilang begitu saja dari ingatan.

 

Dengan usianya kini 101 tahun, dia seperti diingatkan lagi tentang proklamasi ketika rombongan anak-anak usia SD dan SMP Omah Dongeng Marwah (ODM) berkunjung ke rumahnya yang sedehana.

 

Ada sederet manusia lanjut usia lain yang awalnya kikuk ketika diminta membacakan atau menirukan teks proklamasi. Tak ada satupun di antara mereka yang hapal.

 

“Saya tahu kata proklamasi dari lagu Garuda Pancasila,” kata Mbah Niti Rahayu,  salah satu tokoh perempuan Samin, dalam bahasa Jawa yang khas.

 

“Poklamadi? Opo kuwi?” (Proklamasi, apa itu?) tanya Mbah Masni, 90 tahun, yang berkali-kali menyebut proklamasi dengan “proklamadi”.

 

Apa guna teks proklamasi dibacakan? tanya dia lagi. “Oh itu tandane merdeka toh? Saya kira untuk “ngajekno” (doa) buat Pak Karno yang dibaca setelah sholat,” sambung Mbah Masni.

 

Begitulah, teks proklamasi dibacakan kembali oleh orang-orang kampung nun jauh dari Jakarta.

 

Tak apa tak hapal, yang penting tetap menjadi Indonesia!!!

(Kak Hasan)