Proklamasi Manusia Seabad

Dua hari ini kami ketemu dengan narasumber keren. Hari ini kami ketemu dengan Mbah Mundira, kemarin (7/8/17) kami bertemu dengan Mbah Masni. Bagi kami, keduanya benar-benar istimewa. Sebab mereka saksi sejarah peristiwa di Kudus sejak sebelum Proklamasi dibacakan Soekarno pada 17 Agustus 1945.

Mbah Masni ketika ditemui di kediamannya

Masni, adalah warga Cendono, Kecamatan Dawe, Kudus. Nama ini sebenarnya tidak masuk dalam radar kami sebelumnya. Sebab, namanya tidak termasuk penduduk yang berusia lanjut. Kami sebenarnya akan wawancara dengan Mbah Nasri. Tapi Mbah Nasri tidak bersedia diwawancarai. Faktor kondisi kesehatanlah yang tak memungkinkannya.

Kami pun mencari-cari narasumber lain. Tuhan seakan sedang mengajak kami untuk bersabar karena tak gampang mencari narasumber yang sudah berusia lanjut. Ternyata Tuhan menjodohkan kami bertemu dengan Mbah Masni, simbah-simbah yang telah berusia 90 tahun. Saya coba cek lagi di data kependudukan, namanya ternyata tidak ada.

Fisik Mbah Masni relatif sehat, walaupun sudah tak bisa jalan tegak sejak jatuh beberapa tahun lalu. Mbah Masni sendiri tak tahu kelahiran tahun berapa. Tapi dia cerita bahwa pada masa Belanda pra-Jepang, dia sudah kerja di PG Rendeng. Adapun saat Jepang masuk dia sudah nikah. Dia ingat betul peristiwa tersebut karena ketika itu dia dipaksa nikah dengan orang yang tak dikenalnya sama sekali. Akhirnya dia memilih cerai. Persis ketika Jepang masuk.

Ingatan Mbah Masni tentang sejarah masa Jepang dan Belanda di Cendono relatif detail. Dia ingat siapa yang jadi korban dan bagaimana kronologinya,. Dari penuturannya itu kami yakin Mbah Masni memang saksi sejarah. Dan yang lebih penting lagi, kami percaya usianya memang lanjut.

Walau demikian, dia tak tahu Proklamasi. Dia mengaku yang tak pernah sekolah sehingga tak tahu apa itu Proklamasi. Beberapa kali diajari pun tetap salah melafalkannya.

“Proklamadi.”

“Proklamasi, Mbah,” kata kami.

“Proklamadi,” katanya berulang-ulang.

Kami pun menjelaskan bahwa Proklamasi adalah teks yang dibaca Soekarno saat memerdekakan Indonesia.

“Terus, iki diwaca bar salat, ngunu (ini dibaca setelah salat, begitu)?” tanyanya polos.

Mendengar itu kami tak bisa menahan tawa. Mbah Masni pun ikut tertawa. Dia benar-benar tak tahu apa itu Proklamasi.

Tak kira iku diwaca bar salat ngge dongakke Pak Karno (saya kira itu dibaca setelah salat untuk mendoakan Pak Karno),” katanya.

Itu pengalaman kami kemarin.

Hari ini, kami ternyata mendapat narasumber yang lebih tua. Walaupun lagi-lagi, datanya berbeda dengan data kependudukan.

Tentang perbedaan-perbedaan data itu awalnya kami kaget, tapi sekarang sudah biasa. Misalnya, di data kependudukan disebutkan usianya 100 tahun lebih, ternyata saat didatangi usianya masih 60 tahun. Berulangkali kami menjumpai hal demikian. Perjumpaan kami dengan Mbah Masni yang sudah 90 tahun, masih sehat namun tidak tercatat di data kependudukan, membuat kami benar-benar tak boleh kaget lagi dengan kondisi data kependudukan.

Mbah Mundira yang tahun ini berusia 101 tahun

Narasumber kami hari ini namanya Mbah Mundira. Warga Kajeksan, Kecamatan Kota, Kudus. Di data kependudukan dia kelahiran 1926, tapi cucunya yakin Mbah Mundira lahir 1916. Data yang menyebutkan kelahiran Mbah Mundira tahun 1926 itu semata-mata karena kesalahan penulisan oleh petugas.

“Saya dulu pernah lihat catatan bahwa Mbah Mundira lahir 1916. Kalau dilahirkan 1926 mustahil karena anak pertama Mbah Mundira kelahiran 1930-an,” kata Yanti, cucunya.

Wow, kami senang sekali. Dengan demikian, narasumber ketujuh kami ini usianya telah 101 tahun.

Kecuali penglihatannya yang sudah tak berfungsi, fisik Mbah Mundira relatif sehat dan kuat. Ke kamar mandi pun masih berjalan sendiri. Kesehariannya hanya berzikir di kamar.

Mbah Mundira punya banyak kenangan sejarah saat Jepang dan Londo di desanya. Bahkan, dia pun pernah memasakkan bubur untuk tentara Jepang yang melatih Taiso orang-orang kampung. Walau demikian, dia tak bisa Proklamasi.

“Aku ora isa,” katanya saat kami minta untuk melafalkan Proklamasi.

Kula tuntun, Mbah,” kata kami.

Mbah Mundira setuju.

“Proklamasi.”

Ternyata, walau usianya lebih satu abad, lafal Mbah Mundira masih sangat lancar. Sampai frasa Soekarno/Hatta, hanya salah beberapa kata saja. Sehingga kami pun tak perlu take berulang-ulang.

“Bungkus…..!” kata kami dengan hati sangat senang. (Kak Edy)