Lukisan ilusitrasi: Mother's Helper karya Diego Rivera (nonprints.com)

Saat Ibuku Belikan Tas Baru

Aku tidak mengisahkan tentang seorang pahlawan yang seperti biasanya. Aku akan menceritakan seorang pahlawan yang sangat luar biasa dalam hidupku. Sosok yang berarti dalam hidupku,yang mengasihi dan menyayangiku. Dari aku di kandungan hingga saat ini dan sampai akhir nanti. Dia adalah ibuku. Ibu Rusmiyatun.

Ibuku selalu memberikan kasih sayangnya, memberikan apa yang aku minta. Saat aku sakit dialah yang menemaniku, merawatku, memijatku, serta memberikan kasih sayang penuh kepadaku.

Teringat sebuah kisah yang tak akan pernah aku lupakan tentang ibuku. Saat aku naik ke kelas tiga. Aku sekolah di SD 02 Purworejo, Bae, Kudus. Ibuku mengajakku jalan-jalan ke Istana Mode yang berada di daerah Gribig.

Minggu, sore hari, aku pergi ke Istana Mode dengan ibu dan kakakku, Elisa Ratnasari. Kami berangkat dari rumah setelah salat Ashar sekitar jam 16.00 WIB. Kami berangkat ke sana dengan menggunakan sepeda motor.

“Tit….tit…” bunyi bel motor yang dikendarai Kak Elisa.

“Ajeng…Ayo,jadi ikut ke Istana Mode ndag?” tanya kak Elisa.

Aku langsung bergegas keluar rumah. Tapi belum ada Ibu.

“Buk….Ibu…Ayo buk..kita berangkat.”

Ibuku keluar dari dalam rumah, aku sangat senang.

Sesampai di Istana Mode, aku melihat banyak perlengkapan alat tulis. Seperti buku, pensil, penggaris, dan lain-lain. Di sana juga ada banyak baju, tas dan sepatu yang bagus. Dalam perjalanan masuk ke toko aku teringat obrolan kami malam harinya.

“Bu…”

“Ya.”

“Aku sudah naik kelas. Aku mau tas dan sepatu baru.”

“Iya, Jeng, kalau ibu punya rezeki dan uangnya cukup.”

Ibuku hanya mengelus dan mencium rambutku. Aku sebenarnya khawatir bila tidak dibelikan.

Saat di Istana Mode, aku rewel pingin dibelikan tas dan sepatu baru.

“Bu..aku mau tas yang seperti punya Ofi, warna kuning,” kataku.

Ibu hanya tersenyum melihatku. Aku ingin tasnya kembar Ofi.

”Bu, tas yang ini bagus bu…”

“Iya Ajeng. Ayo kita lihat yang lain dulu.”

Kak Elisa sudah mendapatkan sepatu baru. Aku semakin khawatir bila tidak dibelikan.

“Ajeng, kemarilah. Tas warna Ungu ini lo, bagus.. ” kata Ibuku.

“Bu….Aku mau yang warna kuning kembar Ofi.”

“Yang warna kuning itu, kebesaran buat kamu Jeng,,,”

“Tapi aku mau yang itu Bu.”

Ibu mengambil tas kuning tersebut. “Ini kebesaran Jeng…”

Aku rewel menangis di Istana Mode. Ibuku mencoba menenangkan diriku. Ibu langsung membawa Tas Ungu ke kasir. Kesabaran Ibu terlihat saat itu. Kemudian aku menuruti Ibuku.

Tas kuning itu memang kebesaran. Tas Ungu baruku sampai saat ini masih aku gunakan untuk pergi ke sekolah.

Aku sangat senang dibelikan tas baru. Aku menyesal sudah nangis dan rewel di dalam toko. Saya ucapkan terima kasih untuk Ibuku.(*)