Dokumentasi ODM

Siswi SMP Semesta Sutradarai ”Mata Jiwa”

Suara Merdeka, Selebrita, 9 November 2017, Anto Prabowo

TSAGIVA Kinasih Gusti, siswi multitalenta kelas 9 SMP Semesta Semarang, menyutradarai sebuah film pendek berjudul Mata Jiwa. Bulan ini film itu diputar dan dibahas di berbagai kota, yaitu Salatiga (5 November), Semarang (9 November), Kudus (11 November), Jogja (18 November), Purbalingga (19 November), dan Jakarta (28 November). Di Semarang, film itu akan diputar dan dibedah di SMPSMA Semesta, Gunungpati, Kamis (9/11), pukul 18.30.

Di Jakarta, rencananya film itu juga akan diputar di Gedung Kemendikbud, ditonton oleh 400 siswa se-Jabodetabek dan keluarga Presiden Joko Widodo. Selain menyutradarai, Tsaqiva juga membuat skenario film itu, dan menulis lagu ”Temaram” yang menjadi original sound track (OST) film itu.

Mata Jiwa yang berdurasi 30 menit itu dibuat berdasarkan cerpen ”Bintang di Langit” karya Tsaqiva, yang menjadi karya sastra remaja terbaik versi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2016. Tsaqiva Kinasih Gusti (14 tahun) adalah puteri kedua dari tiga bersaudara.

Menurut sang ayah, Hasan Aoni Azis, Tsaqiva memang dikaruniai banyak talenta, seperti menyanyi, bermain musik, dan menulis. Semuanya dilakukan secara otodidak. ”Sejak SD dia sudah menciptakan lagu. Saat ini, sudah banyak lagu ciptaannya.

Sejak SD dia juga banyak menulis cerita anak dan dongeng yang sebagian muncul di mediamedia massa.” Film Mata Jiwa berkisah tentang anak usia 7 tahun dari keluarga pemulung bernama Jiwa, yang lahir dengan mata rabun. Dia merindukan melihat cahaya di malam hari sejak sang ayah mendongenginya tentang bintang kejora di atas langit Jakarta.

Untuk membesarkan hati sang ayah, dia berpura-pura telah melihat bintang kejora yang diceritakan ayahnya, walaupun sesungguhnya yang dilihat adalah kelap kelip lampu hotel di dekat gubuk-gubuk kumuh di mana keluarga Jiwa tinggal. Justru bintang kejora yang dilihat Jiwa itulah yang menjadi masalahnya.

Ketika hotel-hotel itu ingin memperbanyak bintang- bintangnya, dalam arti memperluas pembangunan area hotelnya, Jiwa dan keluarganya harus tergusur.